Oleh : Jlitheng
[ Red-Joss.com ] Dengan menyitir kitab 1 Raja tentang Salomo, St Paulus mengingatkan sahabatnya di Korintus (1Kor 3 : 16) untuk selalu ingat: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”
Ketika dalam homili di gereja Pinang ada pertanyaan dari romo: “Apa yang akan kau minta dari Tuhan jika Tuhan ada di sini?” (tangan kanan menunjuk arah tengah). Sebenarnya “Tuhan pasti ada ya”, jangan ragu.
Dijawab sendiri (pertanyaan oratoris) dengan sampel : anak, bapak dan istri.
(Joke): istri minta agar suaminya yang sering pulang larut malam (bisa juga hampir pagi)โฆ tidak terlambat pulang โฆ (umat sebagian nggleges).
Saya menjawab dalam hati: Tuhan, izinkan hidup kami berdua (istri & saya) jadi bait Allah bagi-Mu.
Saya mohon izin, sebab saya sadar dengan ketakpantasan diriku ini, seperti ketika menyambut komuni: โTuhan, saya tidak pantas. Tuhan datang padaku. Tapi izinkan kami menerima-Mu.โ
Izin Tuhan, saya share yang kami pahami tentang โapa itu bait Allah” dalam Kitab Suci.
Bait Allah adalah tempat yang suci dalam kehidupan dan peribadatan bangsa Israel. Sebagai tempat suci, Bait Allah memiliki makna dan nilai tersendiri sebagai rumah Allah, tempat di mana Allah hadir dan berkenan diam di dalam sebuah bangunan buatan manusia. [Batinku: betapa beruntung mereka yang berkarya langsung membuat gedung gereja Sanberna-Pinang]. Tanpa Ijin dari Tuhan, mustahil. Ini bukan bangunan biasa, tetapi bait kudus Allah. Maka juga harus diperlakukan dengan sikap kudus pula.
Orang Yahudi sedemikian menghormati Bait Allah, karena:
(1). Jadi pusat segala upacara religius dilakukan, tempat dipersembahkan korban bagi Allah (Im.1-7). Prinsip Ignatian: “Ad Maiorem Dei Gloriam” harus digenggam erat siapa pun.” Bukan tempat selfie (baca : show).
(2) Jadi tempat pertemuan bagi mereka (Kis. 2:46). (Komunikasi iman), bukan yang lain. Maka Yesus marah bukan main, ketika Bait Suci dipakai untuk transaksi duniawi. Gereja Katolik sebelum munculnya Reformasi (Luther King) pernah terjebak dalam transaksi sakramental. Yang bisa bayar besar dapat pelayanan lebih enak. Dalam homili kemarin sore Romo dengan tegas menyatakan: di mata Tuhan, kita ini sama, punya hak (dilayani) dan kewajiban (melayani) yang sama.
(3) Jadi tempat pengajaran (Kis. 5:20-21). Jelas sekali maksudnya, pengajaran kebenaran yang bersumber dari Sabda Allah.
(4) Jadi tempat pertukaran informasi dan pengetahuan (Luk. 21: 37). Dalam konteks ini, Sanberna sebagai gereja, sangat hidup. Aktivitasnya beraneka. Kemarin sore, sebelum ke gereja, saya dapat informasi luar biasa dari Ketua Seksi Liturgi emeritus, tentang โcontinues learningโ para pelayan di sekitar altar/liturgi.
Tetap berjiwa Salomo dalam pengabdian.
Jlitheng

