“Suara kebenaran itu memanggil kita pada kebebasan. Maukah kita menyambutnya, atau justru membungkamnya?”
Kemartiran Yohanes Pembaptis itu bukan karena ia lemah, melainkan karena seorang Raja takut pada kebenaran. Herodes gelisah dalam hatinya. Ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang benar. Ia bahkan merasakan kuasa yang menyertai Yesus. Namun, ia memilih gengsi dan kesenangan, daripada pertobatan.
Tuhan mengetuk hati Herodes dua kali: lewat suara Yohanes, dan lewat kehadiran Yesus, Putra-Nya. Tapi ia mengeraskan hati. Ia menukar bisikan Roh Kudus dengan tepuk tangan manusia.
Rencana Tuhan tidak terhenti. Saat Yohanes disingkirkan, Yesus mulai tampil. Ia tidak memulai pelayanan-Nya secara kebetulan, tapi dengan kepekaan akan tanda-tanda zaman. Seperti para Nabi zaman dulu, Yesus membaca dunia lewat terang Kitab Suci. Ia tahu: penderitaan selalu mendahului penebusan. Kematian seorang Nabi adalah tanda, bahwa waktu Mesias telah tiba.
Tuhan menyatakan tahun Yobel: saat suci di mana tanah dikembalikan, hutang dihapus, budak dibebaskan. Ini adalah waktu untuk kembali kepada-Nya. Suara Yohanes itu seperti panggilan Yobel bagi hati manusia:
“Bertobatlah. Siapkan jalan bagi Tuhan. Kembalilah kepada-Nya.”
Bahkan dalam teguran, kasih-Nya bersinar. Ia tidak membiarkan kami tenggelam dalam dosa, tapi menyuarakan kebenaran yang menyadarkan dan menyembuhkan. Seperti pemazmur, kami berseru: “Biarlah segala bangsa memuji Engkau!” Karena Engkau Allah yang adil, penuh berkat, dan pengampunan.
Bapa, terima kasih atas semua suara yang berani menyuarakan kebenaran dalam kasih. Terima kasih atas keberanian Yohanes dan kesetiaan Yesus. Jangan biarkan suara-Mu dibungkam dalam hidup kami. Ajari kami membaca peristiwa sehari-hari dalam terang Sabda-Mu, dan biarkan rahmat-Mu berbuah dalam hidup kami.
Bebaskan kami dari belenggu kesombongan, ketakutan, dan kompromi. Bentuklah hati kami agar terbuka terhadap teguran kasih. Sebab Dia yang berbicara dalam hati kami bukanlah musuh, melainkan Juru Selamat kami.
Demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

