| Red-Joss.com | Jika suatu negara mempunyai payung hukum yang kuat, maka kebenaran akan leluasa bergerak, berbicara, dan jadi hidup.
Jika negara dengan payung hukumnya yang belum kuat, apalagi sering diubah-ubah demi kepentingan politik, maka kebenaran itu akan selalu dibungkam. Baik itu menggunakan uang, kekuasaan, kekerasan, atau dengan menakuti-nakuti.
Padahal kebenaran adalah jatidiri dari keberadaan kita sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Mari kita refleksikan proses ini: dari hidup dalam kebohongan menuju pengungkapan diri dan akhirnya hidup dalam kebenaran.
Hidup dalam kebohongan: orang yang bohong itu dapat dilihat lewat sorot matanya. Dia gelisah, seolah-olah tertuduh, dan terhakimi. Dia merasa sedang diselidiki, ditelanjangi, dan dipermalukan. Padahal perasaan itu muncul dari dirinya sendiri. Kebohongan yang dibuatnya itu telah membentuk tembok kekhawatiran, kecemasan, dan kecurigaan yang kuat.
Hal itu jadi benteng pertahanan diri yang kokoh. Tidak ada orang yang mampu menembusnya, kecuali pengungkapan diri.
Pengungkapan Diri: Tahap ini muncul, karena hidup berbohong itu capai dan melelahkan. Hidupnya tidak fokus dan muncul ketakutan-ketakutan yang luar biasa. Misalnya, ketakutan kehilangan pribadi-pribadi yang dicintainya. Takut kehilangan reputasinya, jatidiri, dan takut kehilangan Tuhan yang menyiapkan jalan keselamatan itu. Pengungkapan diri seseorang ini harus dibangun dengan niat yang kuat dan harus didampingi dengan orang yang kuat pula.
Maka jangan malu atau gengsi dengan mengatakan, “Sobat, tolong aku. Tuntun aku.”
Jika kita kuat dalam disiplin, berkomitmen, dan konsisten, berarti kita menuju jalan yang benar…
Hidup dalam Kebenaran: Inilah hidup baru. Dunia jadi cerah. Kita menjadi pemenang dalam pergulatan kemanusiaan kita. Yang Ilahi merasuk dalam kebatinan kita. Hidup kita melimpah dengan syukur. Inilah inti yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus: “The Truth will set you free.”
Sejak awal mula Tuhan, Sang Pencipta memberikan kepada kita kebebasan yang luar biasa. Kita bebas untuk memilih: rahmat atau dosa.
Pesan-Nya: Hiduplah dalam kebenaran, maka kita akan merasakan kemerdekaan sebagai anak-anak Allah.
Mari kita teruskan perjalanan iman kita ini bersamaku, imammu yang juga pernah hidup dalam kebohongan, tapi sudah mulai bisa membuka dirinya dan saat ini mulai mencicipi hidup dalam kebenaran itu.
Hasilnya: Nikmat, sebab kita semakin dicintai umat Allah dan Tuhan, Sang Pencipta.
“The Truth will set you free.” (Kebenaran akan membebaskanmu). Jaga hidup kita agar tidak tersesat dalam kebohongan!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

