| Red-Joss.com | Sejak kecil aku dididik orangtua untuk menyambut tamu dengan baik. Siapa pun mereka yang datang ke rumah adalah tamu yang harus dihormati. Semua tamu diterima dengan baik dan ramah oleh orangtuaku, khususnya oleh Bapak yang adalah seorang guru dan katekis.
Sejak kecil aku diajari oleh orangtua untuk ramah terhadap semua orang. Siapa pun mereka yang datang ke rumah adalah tamu yang baik. Yang kulihat, orangtuaku selalu ramah pada mereka.
Sejak kecil aku dilatih untuk berbuat baik terhadap semua orang. Siapa pun mereka. Kadang ada yang bisa ditolong, tetapi kadang ada saat tidak bisa menolong. Ada yang bisa langsung merasakan kebaikan, tetapi ada yang tertunda. Kebaikan bisa tertunda? Bisa! Saat rencana-rencana yang baik itu sekadar di angan-angan, dan tidak direalisasikan.
Kebaikan itu tidak selalu ditanggapi dengan baik. Alasannya sederhana, karena orang itu belum membutuhkannya.
Keramah-tamahan itu tidak selalu ditanggapi dengan baik. Alasannya sederhana, karena orang itu belum sungguh mengenal kita, dan merasa enggan.
Sambutan yang baik pada tamu itu tidak selalu ditanggapi dengan baik. Alasannya sederhana, yaitu orang itu masih malu bertemu, atau sungkan.
Sesungguhnya, untuk berbuat baik itu tidak harus kecewa, karena kebaikan kita akan diterima oleh yang lain. Dia… mereka menantikan kebaikan kita. Solusinya disederhanakan agar tidak ribet.
Sesungguhnya hal-hal baik dan positif itu telah diwariskan oleh orangtua kita itu untuk diteruskan pada sesama. Sekaligus agar kita menjaga martabat dan nama baik orangtua.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

