Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Dalam legenda Hindu dikisahkan, bahwa dahulu kala, manusia memiliki pengetahuan seluas layaknya para Dewa.
Namun, alangkah kecewanya para Dewa, karena ternyata manusia telah menyalahgunakan keunggulannya sebagai makhluk berpengetahuan setara para Dewa dengan bersikap angkuh dan membusungkan dada.
Apa lacur, akhirnya para Dewa mencabut keunggulan pengetahuan itu dan menyembunyikannya.
Para dewa berunding, di mana pengetahuan itu akan disembunyikan? Di dalam dasar bumi, atau di dasar laut? “Ah, jangan, kelak manusia itu akan menjelajahi dasar bumi, tanah, dan dasar laut.
Akhirnya, di manakah pengetahuan itu disembunyikan?
Dewa Brahma, memohon para Dewa, agar pengetahuan itu disembunyikan di dalam relung hati sang manusia.
Konon, sejak itu, hadirlah manusia yang arif dan rendah hati di atas bumi maya ini.
Begitulah tabiat manusia. Diberi sesuap nasi, maunya sepotong roti. Disuguhkan segelas air, maunya secangkir anggur merah.
Apa dan mengapa sesungguhnya yang terjadi?
Apa esensi dari realitas pahit pedih ini? Keangkuhan? Kerakusan? Sikap memonopoli? Mungkinkah manusia itu kehabisan anggur ketulusan serta sikap rendah hati?
Saya teringat akan kisah alkitabiah, Bibel, akan tragedi keteledoran dan sikap tak tahu diri di Taman Impian Eden.
Siti Hawa dan Adam yang mudah terbujuk rayu iblis laknat. Gawat.
Manusia, siapakah engkau? Dari manakah dan hendak ke manakah engkau?
Sepotong sejarah, secara kronologi memang akan selalu terulang.
Membaca sepotong sejarah hari-hari ini, bagaikan membalikkan lensa kamera dunia.
Tiada yang baru di kolong langit kehidupan ini, segala sesuatu senantiasa berbuah ranum, dicicipi dari generasi ke generasi, dicermini dari Adam hingga ke cucu cicitnya…
“Absurditas… oh sang absurditas, … sia-siakah ziarah cucu sang Adam di kolong langit ini?”
Kediri, 23 Mei 2025

