Beberapa hari belakangan tokoh-tokoh kitab suci seperti Elia di Perjanjian Lama dan Yohanes Pembaptis di Perjanjian Baru menarik perhatian kita. Kita juga berkesempatan untuk berjumpa dengan tokoh perjanjian lama yang lain, yaitu Raja Daud.
Yakub yang disebut Israel, pada saat hendak meninggal dunia, ia memanggil anak-anaknya untuk memberikan wasiat, dan yang mendapat wasiat untuk menurunkan kuasa keadilan Tuhan ialah Yehuda. Dari dialah datang Raja Daud. Keturunan demi keturunan dari Yehuda ke Daud, akan sampai ke Yakub yang memperanakkan Yusuf suami Bunda Maria.
Pada suatu pagi, ketika di dalam ruang kelas berlangsung pelajaran agama Katolik, seorang siswi protes keras kepada Ibu Gurunya. Ia tidak ingin Ibu Guru itu meneruskan pelajaran dengan menyebut nama Daud. Baginya Daud itu pembuat skandal ulung. Sebagai remaja perempuan, ia ingin supaya tokoh-tokoh besar dan pemimpin yang bersikap tidak adil, curang, pemuas nafsu birahi, pemerkosa seperti Daud itu tidak boleh dijadikan isi pelajaran, karena tidak bisa jadi contoh yang baik.
Ibu Guru itu berusaha untuk menenangkan suasana. Karena provokasi gadis itu yang membuat teman-temannya jadi gaduh. Mereka mengutuk tokoh Daud. Tapi Guru itu meyakinkan mereka, bahwa tokoh seperti Daud memiliki banyak kesamaan dengan banyak tokoh sejarah lainnya di dunia. Mereka tidak luput dari kesalahan dan dosa. Mereka yang justru menciptakan ketidak-adilan. Oleh karena itu, Tuhan ingin memunculkan keadilan yang menurut kehendak-Nya, meski melalui cara dan pribadi manusia yang berdosa. Keadilan Tuhan harus tetap jaya dan tidak boleh kalah dari tabiat jahat manusia.
Ada pula kisah seorang pemuda yang terlibat dalam pergaulan tidak sehat. Ia menghamili pacarnya, dan studinya terganggu. Tingkahnya di rumah semakin aneh. Ia berubah jadi keras dan bisa marah membabi buta, dan ia bertindak tidak adil.
Tapi kedua orangtuanya tidak putus asa. Mereka memilih jalan keadilan. Jalan kasih bagi putranya agar merasa diterima dengan baik. Ia tidak diperlakukan sebagai seorang yang gagal dan berdosa. Kedua orangtua itu sebenarnya sedang mempraktikkan keadilan Tuhan yang berjaya.
Kita belajar dari Daud, jika keadilan itu yang hanya menuruti kemauan manusia, yang terjadi ialah ketidak-adilan. Keadilan dari Tuhan akan mengubah ketidakadilan itu jadi berkat dan keselamatan.
Ya, Allah yang Maha Rahim teguhkanlah ketaatan dan kesetiaan iman kami, sehingga tidak goyah oleh aneka ancaman di sekeliling kami. Amin.
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

