Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kemanusiaan itu lebih tinggi daripada politik.
Jika politik tidak berpihak kepada kemanusiaan, ia akan kehilangan arah.”
(Buya Syafii Maarif)
Penyakit Sosial
‘Tuna empati’ adalah penyakit sosial yang berbahaya. Ketika pejabat publik atau pemimpin perusahaan kehilangan empati, rakyat dan karyawan merasa ditinggalkan. Kesenjangan rasa melebar. Penguasa berbicara dengan bahasa angka, rakyat mendengar dengan bahasa perut. Yang satu merasa tidak dihargai pekerjaannya, yang lain merasa diabaikan. Demikian tulisan Eileen Rachman & Emilia Jakob, konsultas SDM harian Kompas, Sabtu, (13/9/2025) kolom Karier, berjudul, “Tuna – Empati.”
Realitas Menantang yang Menyakitkan
Di saat rakyat sedang berjuang mati-matian demi bisa mengisi perut laparnya, dan para guru honorer berjuang agar keluarganya tidak mati kelaparan. Di sisi yang lain, para wakil rakyat justru sangat sibuk ‘memperjuangkan penyesuaian gaji dan tunjangan rumah dengan angka yang sungguh fantastis.’
Empati yang Hilang
Ke manakah perginya empati pemerintah dan para wakil kita? Mengapa mereka justru tinggalkan rakyat selaku penopang utama hidup mereka lewat cara wajib pajak? Bukankah rakyat itu adalah tuan yang paling terhormat dan bukan sebagai budak murahan, bukan?
Vox Populi Vox Dei
“Suara rakyat adalah suara Tuhan,” (Vox Populi Vox Dei), demikian sebuah adagium Latin. Lewat kejujuran nurani dan ketulusan hatinya, rakyat telah menopang keberadaan sebuah negara dan bangsa. Sehingga Marcus Tullius Cicero, filsuf Romawi kuno berpesan, “Suara rakyat adalah hukum tertinggi,” (Salus Populi Suprema Esto).
Oleh karena itu, sudah sepatutnya, pemerintah dan para wakil rakyat tak pernah boleh memunggungi rakyat. Dalam konteks ini, hendaklah pemerintah wajib mendengarkan suara tangisan rakyatnya. Itulah sebabnya, betapa pentingnya pemerintah dan para wakil rakyat yang masih memiliki sekeping empati sebagai sebuah keterampilan yang mutlak mereka miliki.
Sekeping Empati bukan Kelemahan
Camkan, sekeping “Empati, bukanlah kelembutan yang melemahkan. Ia adalah kekuatan yang menyatukan, membangun kepercayaan, dan membawa bangsa ke luar dari krisis,” demikian Ellen & Emilia mengakhiri tulisan mereka.
Wahai Sang Kebenaran Sejati, ke manakah sirnanya, sekeping empati dari dalam nurani suci kami?
Kediri, 15 September 2025

