Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bukankah hanya orang yang berkarcis, yang sungguh-sungguh tahu, ke mana tujuannya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Prinsip Hidup Sadar
Pada prinsipnya, bukankah di dalam kehidupan ini, semua orang pasti memiliki sebuah tujuan? Baik sebagai tujuan yang bersifat sementara pun sebagai tujuan paling akhir. Juga ketika seseorang sedang memandang ke sebuah arah, bukankah di saat itu, dia sedang terarah ke sebuah tujuan yang bersifat sementara? Bahkan secara reflek, tatkala memandang ke sebuah arah, di saat itu mata Anda sedang tertuju ke sebuah tujuan. Jadi, pada prinsipnya, bahwa setiap orang dalam sikon apa dan bagaimana pun pasti memiliki sebuah tujuan.
Tujuan yang Tak Jelas
Suatu hari, seorang Uskup Anglikan menaiki sebuah kereta api untuk memberi Sakramen Penguatan di sebuah tempat yang cukup jauh. Karena ia seorang pelupa, maka ia tidak menyertakan karcisnya. Di saat proses pemeriksaan karcis sedang berlangsung, berkatalah seorang petugas karcis kepadanya, “Tapi jangan khawatir Tuan, karena kami sungguh tahu, siapakah sejatinya Anda.”
“Oh ya, maaf, Anda ini sungguh baik, terima kasih,” jawab Uskup itu.
Sesaat kemudian, ketika dia sungguh sadar akan kekhilafannya, Uskup itu lalu menyeletuk kepada dirinya sendiri, “Tapi dengan tanpa karcis, bagaimana saya bisa tahu, ke mana arah serta tujuan saya?”
Clifton Fadiman
(1500 Cerita Bermakna)
Lupa dan Dampaknya
Dalam hidup ini, kita mengenal, bahwa tidak sedikit orang yang sering lupa, akan dan juga ‘lupa’ pada sesuatu. Sehingga orang-orang akan menyebutnya sebagai si ‘pelupa’.
Tentu saja, sifat pelupa itu sangat berdampak negatif dalam kehidupan manusia. Artinya bagi si ‘pelupa’ pun bagi kita, tentu akan berdampak negatif. Bagaimana jadinya hidup ini, jika Anda sering lupa? Lupa makan, janji, atau lupa menggosok gigi. Tentu, asalkan saja Anda tidak lupa untuk bernafas.
Ketika Manusia Sadar, bahwa Hidup ini pun Bertujuan
Lewat tulisan refleksi ini, saya sungguh mengapresiasi akan titik-titik kesadaran dari dalam diri Uskup itu. Ia sungguh sadar sebelum ia terlambat untuk sadar.
Bukankah ia telah menyeletuk kepada dirinya sendiri, bahwa seorang ‘pelupa’ itu akan konyol dalam hidup ini. Ia l bahkan berani untuk mempertanyakan eksistensi dari si pelupa di dalam hidup yang bertujuan ini.
Pertanyaan Kritis Retoris
“Tapi, dengan tanpa karcis di tangan, bagaimana saya bisa tahu ke mana tujuan hidup saya?” Dengan tanpa karcis hidup di tangan saya, bagaimana saya bisa hidup tenang dan nyaman? Bukankah secara filosofi dan religi ‘ketiadaan karcis di tangan’ itu dapat bermakna, bahwa saya hidup tanpa identitas dan dasar iman sebagai sebuah pegangan hidup? Bagaimana mungkin, Anda dapat hidup dengan tanpa memiliki indentitas dan iman?
Ketika hendak bepergian, Anda membeli tiket pesawat terbang, maka Anda pun wajib menunjukkan kartu identitas (KTP) Anda, bukan? Itu pun sebagai sebuah syarat mutlak yang perlu Anda tunjukkan kepada petugas.
Demikian juga di dalam ziarah hidup yang bersifat sangat sementata ini, Anda perlu memegang erat sebuah karcis kereta api hidup sebagai identitas utama dan dasar iman Anda.
Di balik identitas personal itu, Anda akan dikenal di saat proses pemeriksaan karcis hidup itu berlangsung kelak.
Refleksi
Sang Pemeriksa Sejati itu pun tentu akan tahu, bahwa sejatinya, siapakah Anda itu!
Kediri, 8 Oktober 2025

