Fr. M. Christoforus, BHK
“Ke mana engkau pergi, wahai sang pribadi berintegritas?”
(Didaktika Hidup Jujur)
…
| Red-Joss.com | Kolom Opini harian Kompas, Kamis, (21/3/2024), Surat Kepada Redaksi, oleh Bharoto, beralamat di Jalan Kelud Timur I, Semarang, mengungkapkan isi hatinya lewat judul, “Integritas.”
“Hari-hari ini seakan kita disuguhi masalah integritas para tokoh, khususnya tokoh politik atau politisi. Sederhananya, integritas adalah satunya perkataan dan perbuatan,” demikian tulis beliau.
Pada paragraf pertama beliau menulis, “Sudah biasa kita saksikan para politisi ke luar masuk dari parpol yang satu ke parpol yang lain. Sikap dan perilaku mereka juga bisa berubah dari pengkritik satu tokoh menjadi pemuji sang tokoh.
Padahal, integritas sesungguhnya bersandar pada kebenaran terkait dengan etika dan moral serta bukan bersandar pada kepentingan kekuasaan.”
Pada tulisan refleksi ini, saya tidak membahas tentang isi dan sikap penulis yang mempertanyakan serta meragukan perilaku para politisi kita yang cenderung pragmatis dan tidak berintegritas.
Saya akan berfokus pada fenomena problematika kerapuhan dan tidak konsistennya aspek mentalitas serta karakteristik para politisi kita.
Bersandar pada prinsip hidup, bahwa “Keteguhan dan kekokohan pribadi seorang manusia, justru terletak pada aspek kedewasaan mentalitas serta karakternya (mental serta moral).
Itulah sebabnya, mengapa penting dan vitalnya pendidikan karakter serta pembentukan kepribadian seorang manusia.
Kini sadarlah kita sebagai warga dari sebuah bangsa besar, karena ternyata, betapa rapuh dan pragmatisnya mentalitas manusia Indonesia.
Hal ini tercermin dari sikap dan perilaku cengeng serta plin-plan lewat modus operandi para politisi kita.
Jargon cengeng yang selalu mereka dengungkan, bahwa “dalam politik tidak ada kawan atau lawan, yang ada hanyalah kepentingan.”
Apakah hal ini didasarkan dan terbukti pada kerapuhan alias lemahnya aspek ideologi politik yang serba pragmatis?
Fenomena lemah dan tidak konsistennya mentalitas masyarakat kita, juga tercermin dari cara memilih para wakil rakyat. Mereka memilih, justru tidak didasarkan pada aspek rekam jejak dan gagasan brilian, namun pada aspek popularitas serta suka atau tidak suka semata.
Maka, saya pun mengajukan sebuah pertanyaan retoris, “Wahai sang integritas, di mana engkau berada?”
…
Kediri,ย 25ย Maretย 2024
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

