Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Ke manakah engkau pergi, wahai sang waktu?”
(Pertanyaan Abadi)
…
Hari ini, kita berada tepat pada tanggal tiga puluh satu di bulan Desember. Inilah hari paling akhir dari rentetan hari-hari di sepanjang tahun.
Di saat paling bermakna ini, nurani sunyi saya sangat terobsesi untuk mengenangnya lewat sebuah tulisan imajiner.
Sang Waktu Kronologis
Manusia itu hidup, bergerak, dan hadir di dalam dekapan relungan mesra sang waktu. Dia sungguh teduh bernaung di bawah sepoi ayunan kepakkan gemulainya. Pada saat ini, manusia sangat terikat pada relungan waktu dan tempat. Itulah yang dinamakan waktu secara kronologis.
“Waktu, saat, dan momen” adalah rentetan detakan jantung nurani manusia yang terekspresi lewat detakan jarum arloji atau pada deretan angka yang tertulis pada seutas kalender Masehi yang tergantung sunyi di dinding sadar manusia.
Dei Gratia et Deo Gratia
Sungguh waktu itu adalah alunan sendu dari aliran rahmat Sang Tuhan (Dei Gratia), yang mengalir deras di sepanjang hidup manusia.
Jika manusia itu sadar, maka sudah sepantasnya tak henti-hentinya ia bersujud dan bersyukur (Deo Gratia), kepada Tuhan sebagai Sang Pemberi kehidupan ini.
Semoga, kita tidak terjebak untuk hanya sekadar bersyukur atas keberadaan waktu secara fisik, namun juga oleh waktu sebagai suatu aliran air rahmat berlimpah. Itulah makna waktu sebagai rahmat Tuhan.
Ke Mana Engkau Pergi
“Ke Mana Engkau Pergi” sebagai seuntai kalimat yang termaktub sebuah pertanyaan yang bersifat kekal. Pertanyaan ini akan terus diajukan di sepanjang nafas hidup manusia.
Sang kesadaran itu yang menggayut mesra di dalam nurani manusia yang selalu tergoda untuk terus mau bertanya.
Karena bagi manusia, waktu itu sudah dihayati sebagai sahabat terbaik dan sekaligus sebagai sebuah relungan yang menantang manusia.
Keluhan Abadi Manusia
- “Maaf saudara, saya belum punya cukup waktu, mohon dimaafkan, ya!
- “Koq pendek sekali waktu hidup bagi manusia!”
- “Saya merasa bagai dikejar-kejar waktu!”
Apakah tepat dan benar, bahwa waktu itu juga sebagai saat yang menantang kehidupan manusia? Ataukah sederetan keluhan itu hanya sebuah ekspresi dari sikap tidak tahu bersyukur dari manusia? Atau justru sebagai sebuah ekspresi dari sikap ketidaksetiaan manusia untuk bersikap konsisten dan setia pada waktu?
Sesungguhnya, bahwa waktu itu tidak pernah beralih langkah dan tempat dari dirimu. Bahkan dia senantiasa setia berada di sisimu dari momen ke momen. Bersama tarikan dan hembusan nafasmu, dia selalu setia berada di sisimu di sepanjang waktu hidupmu.
Maka, dapat dikonklusikan, sejatinya waktu tidak pernah beralih ke mana pun.
Karena rahmat itu senantiasa mengalir hanya di dalam alunan waktu.
Jika Anda senantiasa berada di dalam kehangatan pelukan waktu, maka sejatinya, Anda berada di dalam rahmat Tuhan.
“Aku hadir demi engkau!”
…
Kediri, 1 Januari 2025

