Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ke mana aku harus mengadu, ketika sesamaku, ternyata bukanlah tempatnya?”
(Rintihan Hidup)
…
| Red-Joss.com | Tulisan reflektif ini, berupa curahan hati, sebuah keluhan, serta aduan hati manusia.
Ke mana manusia harus mengadu, tatkala sesama manusia itu, ternyata bukanlah tempatnya?
Anda dan saya hanya manusia rapuh dan makhluk yang lemah dalam menghadapi pahitnya realitas hidup yang menantang ini.
Banyak luapan rasa kecewa dan sakit hati yang seolah dipendam dalam-dalam dan dikunyah lewat mulut bisu ini. Karena manusia tak tahu, harus diarahkan ke mana dan kepada siapa.
Untuk itu, manusia membutuhkan senjata pamungkas sebagai kekuatan diri, agar dapat bertahan menghadapi gempuran kebringasan hidup ini.
Berhati-hatilah di dalam bersikap. Hindarilah sejauh dapat, agar tidak gampang memuntahkan keluh kesah kepada sesama manusia. Mengapa?
Karena tidak semua orang bisa memahami diri kita. Bahkan sejatinya, tidak semua orang akan peduli pada keluhan kita. Bisa jadi, mereka akan menertawakan dan membocorkan permasalahan kita kepada orang lain.
Ketika kita menghadapi kendala seperti itu, jangan berputus asa atau kecewa. Ada Tuhan, Sang Maha Mendengar. Dialah yang akan menyendengkan telinga peduli-Nya atas keluhan kita.
Juga kita bisa menuangkan isi keluh itu lewat daun-daun kertas dan mata pena bertinta. Goreskan keluh kesah itu ke dalam untaian lagu sendu menyayat hati atau lewat setangkai puisi duka.
Percayalah, karena secara psikologis kita akan dikuatkan, walau pun mungkin hanya untuk sementara waktu.
Semesta raya ini juga dapat menjadi sahabat terbaik kita, walau pun dia tak segera menyahuti duka ini.
Teruslah belajar membekali diri dengan senjata pamungkas.
Ada pun senjata pamungkas itu adalah: iman, harapan, dan kasih!
In Te Confido!
…
Kediri, 13ย Februariย 2024

