Menembus tembok ketidak-percayaan diri yang membatasi.
Banyak ‘tembok’ yang membatasi, mengapa akhirnya ada pribadi yang tidak bisa tampil dan menjalani hidup dengan percaya diri.
Orang tidak percaya diri itu, karena:
- Pekerjaan yang dimilikinya saat ini. Malu dengan pekerjaannya sehari-hari.
- Penampilan fisiknya. Merasa jadi perhatian dari kekurangannya itu.
- Latar belakang keluarga. Misalnya banyak sekali hal yang negatif dari keluarganya.
- Minim (terbatas) talenta yang dimilikinya. Sehingga ia tidak pernah memberikan apresiasi pada diri sendiri.
- Melihat masa lalunya. Cenderung sudah melihat negatif tentang citra dirinya.
- Kebiasaan-kebiasaan buruknya.
- Terbebani oleh pendapat orang-orang yang ada di sekitarnya.
- Tidak pernah merasakan kasih yang cukup.
- Beban dosa yang ditanggung dan masih disembunyikannya.
Tembok yang menutupnya itu terlalu rapat dalam berbagai ekspresi itu membuatnya jadi minder, bersembunyi, dan menutup diri.
‘Car-Per’ = Cari Perhatian. Bergaya.
- Reaksi yang mudah marah dan mudah tersinggung.
- Sensitif dan reaksional.
- Malu dan mudah cemas.
- Asosial dan tidak peduli.
- Tampil dengan penampilan yang bukan mewakili dirinya sendiri.
- Tampil sebaliknya, karena tidak mau dikatakan tidak percaya diri, lalu tampil yang sebaliknya ‘over’, sehingga justru tampak kebodohannya dan mengundang gelak-tawa.
Sejatinya penting untuk selalu menyadari agar kita bisa menerima diri sendiri, karena:
- Kita terlahir di dunia ini dengan suatu tujuan. Pasti ada hal yang istimewa. Temukanlah itu.
- Kita terlahir di dunia ini dengan bekal yang cukup. Pastikan dan kembangkan agar jadi berkat.
- Kita terlahir di dunia ini dengan kekhasan yang istimewa. Rayakanlah itu.
Catat dengan baik, karena “Setiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaannya sendiri.” Wow, dasarnya sangat kuatkan? Kita ini sungguh tercipta istimewa.
Semakin kita bisa menerima dan membuka diri kita, maka ruang untuk bergerak makin luas dan jarak pandang kita kian jauh.
Akhirnya, kita bisa berjalan dengan percaya diri untuk menikmati setiap perjalanan itu.
Rayakanlah hidup ini dan jangan menyembunyikan diri terus-menerus di balik tembok ketidak-percayaan itu. Tempat kita bukan di balik tembok, ke luarlah dan mari nikmati bersama keindahan di luar tembok ini.
Lihat … Dunia ini amat indah dengan warna-warni hidupnya!
Rm. Petrus Santoso SCJ

