Ah, yang benar! Rayuan maut, nih … Hati ini langsung ‘klepek-klepek’. Kita jadi salah tingkah, hingga terbius ke negeri dongeng.
Ya, kita tentu kenal dengan lagu “Kau Tercipta Untukku” yang pernah ngehit dekade 80an itu, dan dinyanyikan oleh Betharia Sonata yang ayu melankonis. Lirik lagunya mampu mengharu-birukan hati kita yang tengah kasmaran.
Konon, masa bercinta adalah masa yang paling indah dan sumringah. Kita jadi semangat dan percaya diri.
Karena ingin merebut hati pujaan, kita sering menutup-nutupi sifat asli. Kita ingin tampil serba lebih … baik, keren, tajir, dan seterusnya. Kita mengada-ada, bahkan ada yang berkamuflase. Akibatnya, bisa ditebak. Kita terbius, lalu menikah. Ketika usia penikahan berjalan beberapa lama, kita melihat sifat asli pasangan … yang membuat hati ini menyesal. Tapi semua itu sudah terlambat, dan nasi sudah jadi bubur. Sesal belakangan itu tiada guna. Lebih bijak kita menyikapi hal itu dengan baik dan mengatasinya.
Langkah yang utama dan terbaik adalah, kita mawas diri. Tidak perlu menyesali yang sudah ‘dipilih dan diputuskan’. Selain itu yang harus diingat adalah, tidak ada pasangan yang sempurna.
Resep pernikahan bahagia itu sederhana, yaitu berkomunikasi dengan hati untuk menerima pasangan kita, baik kelebihan dan kekurangannya. Kita belajar untuk makin mengenali karakter pasangan agar kita jadi sabar dan rendah hati.
Modalnya yang utama adalah kita mau membuka hati ini. Prinsip untuk mengatasi konflik: masalah yang besar itu dikecilkan, dan masalah yang kecil itu untuk ditiadakan. Kita bicara dari hati ke hati untuk mencari titik temu dan menyelesaikan persoalan itu secara baik-baik.
Dengan mudah bersyukur dan berserah pada kehendak Allah, percayalah beban persoalan kita diringankan. Bukankah tujuan berumah tangga itu untuk belajar saling melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengasihi satu sama lain?!
Selalu membiasakan diri untuk menyertakan Tuhan dalam setiap rencana dan mengambil keputusan agar kita jauh dari rasa kecewa, sakit hati, dan terluka.
Sejatinya kita diuji untuk jadi pribadi yang sabar, tabah, dan rendah hati.
Dengan membiasakan diri untuk mudah bersyukur, mukjizat Tuhan jadi nyata.
“Percayalah, Doi diciptakan spesial untukmu.”
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

