Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika lentik jemariku asyik menulis, seorang Malaikat pun bertanya, “Engkau sedang menulis tentang apa?”
“Tentang kata-kata kasih,” jawabku.
Lalu kami berdua pun serentak tersenyum.
(Dialog Imajinatif Inspiratif)
Ketika dunia kita kini nyaris sibuk ‘berantem’, karena seribu satu macam alasan, lalu Anda dan saya, kita harus berbuat apa?
Apakah kita asyik turut menikmati kata-kata cercaan dan makian itu, atau…?
Anda turut sibuk dan membusung dada sambil mengibarkan bendera demi memihak salah satu dari keduanya?
Di sana, justru secara psikologis telah terjadi lautan api dan ajang pertumpahan darah lewat kata-kata penuh amarah.
Maka, saya pun segera teringat kata kata-kata inspirasi dari dua orang filsuf ini.
(1) Petarung terbaik ialah
dia yang tidak pernah
marah. (Laot Zu).
(2) Ketika kalah dalam
debat, fitnah menjadi
alat pecundang.
(Socrates).
Kata itu ibarat pedang bermata dua. Kata itu, ucapan sang manusia saat memuji dan bersyukur kepada Gusti Allah.
Dengan kata-kata juga manusia mencabik mengumpat dan mengutuk sesama? Ironis, bukan?
Kata-kata itu turun dari mulut / lidah sebagai produk dan ekspresi dari isi pikiran dan perasaan manusia.
Lewat pedang kata-kata beracun itu manusia juga telah menghujani sesamanya dengan cacian dan cercaannya.
Lidah itu memang kecil, tapi ia bisa berdampak besar. Lidah itu, lewat kata-kata, ibarat mesin sebuah kapal.
Mesin itu hanya organ kecil, namun ia mampu mengendalikan sebuah kapal raksasa.
Mari kita hidup dengan saling membahagiakan, justru pertama-tama lewat ekspresi wajah dan kata-kata yang mampu menginspirasi sesama.
Hindari pengunaan kata-kata yang dapat membunuh sesama. Ingatlah, kata-kata kasar itu nanar, justru jauh lebih tajam daripada pedang bermata dua.
Semoga kita tidak lupa dengan nasihat bijak para pendahulu kita, “mulutmu adalah harimaumu.” Untuk berhati-hati dalam berbicara.
Mari kita ciptakan kehidupan ini lewat kata-kata yang mampu menginspirasi sesama!
Kediri, 18 Februari 2024

