Seorang pemuda disukai tiga orang teman wanitanya. Masing-masing mempunyai keinginan yang sama, yaitu supaya dikawini pemuda itu. Dalam keadaan dilema, ia berkonsultasi dengan orangtuanya. Bapa dan Ibunya memberikan semua pertimbangan yang diperlukan. Kemudian anaknya diberikan segala kebebasan untuk memutuskan. Ibu berkata, “Dengarkan kata hatimu, dan tentukan pilihan yang terbaik.”
Umumnya kita mengerti kata hati kita sebagai kebenaran yang memiliki tuntutan moral yang tinggi. Kata hati sebagai keputusan terakhir setelah melalui berbagai pertimbangan dan analisa. Diskusi, pembahasan, dan konsultasi pada umumnya berguna untuk memberikan pencerahan dan pemahaman yang lebih luas. Usulan atau kritikan juga sering kita jadikan sebagai faktor yang diperlukan untuk memberikan keseimbangan dalam pemikiran dan pembahasan. Pada akhirnya keputusan itu memang benar-benar hasil dari kata hati yang jujur dan jernih.
Kita mengetahui, bahwa kata hati itu adalah suara hati nurani kita. Tuhan memilih untuk tinggal di dalam hati nurani kita. Ketika kita memikirkan dengan tenang, damai, positif, dan dalam suasana berdoa, kata hati nurani kita tentu akan berisi kebaikan, pujian dan syukur kepada Tuhan; kebenaran yang membebaskan, dan sukacita yang membawa kedamaian. Sebaliknya, jika kita diliputi kebencian, kemarahan, kesombongan dan hawa nafsu, kata hati nurani akan berisi kejahatan dan dosa. Kata hati kita sangat bergantung pada niat, intensi, dan perasaan kita sebagai manusia.
Dua contoh kata hati nurani yang sangat berlawanan.
Yang pertama ialah kata hati seorang yang beriman, yang diwakili oleh Raja Daud. Ini adalah sebuah gambaran orang beriman yang menyadari diri sebagai orang berdosa, tapi imannya kepada Tuhan semakin bertambah. Ia percaya akan belas kasih Tuhan untuk mengampuninya, dan ia lebih percaya lagi, bahwa hidupnya sangat dirahmati dan diberkati oleh Tuhan. Pada gilirannya, ia akan jadi berkat dan penyalur rahmat bagi orang lain.
Yang kedua ialah kata hati seorang yang tidak beriman dan yang hidup dalam sebuah sistem hukum rimba. Sistem hidup ini membenarkan mereka yang kuat dan berkuasa mematikan mereka yang lemah dan yang membawa kebenaran. Herodes memiliki kata hati yang jahat dan penuh dosa. Tidak ada kasih dan kebenaran di dalam hatinya. Kata hatinya memerintahkan dia untuk melakukan kebohongan daripada kebenaran, kegelapan daripada terang, kekacauan daripada kedamaian, kebencian daripada cinta. Setiap niat dan perbuatan jahat diproduksi dari kata hati yang jahat.
Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: keadaan saya saat ini, apakah diwarnai kata hati yang baik dan benar, ataukah kata hati yang salah dan jahat?
“Ya, Tuhan Yesus, murnikanlah hati kami supaya kami kembali hidup dalam kebenaran-Mu, dengan selalu mendengar bisikan nurani kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

