Catatan kecil ini saya tulis untuk Korwil kami, wilayah Antonius yang semalam pamitan, karena sudah purnalayan.
…
Pada sebuah pesta perpisahan seorang Korwil, diadakan sebuah acara penyampaian pesan dan kesan dari umat pada mantan Korwilnya yang segera memasuki masa purnalayan dari Paroki.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan itu dinyatakan dalam bentuk tulisan sebelum acara perpisahan dilakukan. Di antara kesan yang diberikan, dipilih sebuah catatan dan dibingkai untuk dibacakan di acara perpisahan. Yang dipilih adalah catatan seorang ART yang telah bekerja cukup lama di rumahnya. Dia menulis sebagai berikut:
“Yang terkasih Pak Korwil. Terima kasih sebab Bapak selalu mengucapkan kata ‘tolong’, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya.”
“Terima kasih Pak, karena sebagai kepala rumah tangga Bapak selalu mengucapkan ‘maaf’, saat menegur dan mengingatkan kesalahan yang telah saya perbuat, karena Bapak ingin saya merubahnya jadi kebaikan.”
“Terima kasih, Pak. Karena selalu mengucapkan ‘terima kasih’ kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.”
“Terima kasih Pak Korwil atas semua penghargaan kepada orang sederhana seperti saya, sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Sampai kapan pun Bapak adalah tetap Korwil buat saya.”
“Semoga Tuhan Yesus melindungi Bapak dan keluarga di mana pun berada. Amin.”
Setelah sejenak dalam keheningan, serentak tepuk tangan memenuhi ruang tamu itu. Diam-diam Pak Korwil mengusap genangan air mata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang ART yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan keluarga dan Wilayahnya, terutama urusan koor dan acara-acara ibadat. Korwil ini tidak pernah menyangka sama sekali, bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya amat sederhana dan biasa- biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang sederhana seperti ART tersebut.
Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh wakil umat setuju dan sepakat, bahwa keteladanan dan pelayanan Korwil mereka akan mereka teruskan sebagai budaya melayani di lingkungan-lingkungan sewilayah Antonius.
Sebagai Gembala kecil, Korwil itu menunjukkan keterbukaan hati dan tanggung jawabnya kepada umatnya. Ia melaksanakan tugasnya, menggembalakan dan membimbing, tapi ia juga menghargai, menyemangati orang-orang yang melayani bersamanya.
Dalam 3 kata, “tolong, maaf dan terima kasih,” terungkap ciri-ciri seorang Katolik yang sejati; seorang pengikut Kristus yang hidup dalam Kristus, mengasihi-Nya dan bersama Kristus memelihara hidup dan kasih itu bagi dirinya sendiri dan berbagi dengan sesama; dalam hati yang terbuka, penuh syukur dan perduli akan keselamatan semua orang, termasuk dirinya sendiri. Amin.
Salam sehat.
…
Jlitheng

