| Red-Joss.com | “Masih adakah kasih di hatimu, ketika menghadapi pengkhianatan?”
Untuk memberi jawaban atas pertanyaan itu, saya harus hati-hati, sebab saya berhadapan dengan setiap orang yang sangat marah, karena telah dikhianati.
Banyak orang yang mengalami pengkhianatan, baik dikhianati oleh pasangan, rekan bisnis, sahabat, saudara, dan banyak lagi. Yang tertinggal dari pengkhianatan itu adalah marah, benci, dendam, dan sakit hati.
Di tengah pengkhianatan itu, nilai kasih terkubur. Kasih kehilangan daya dan kekuatannya. Kasih itu menjadi sirna dan yang tersisa tinggal cerita. Kasih itu kalah dan jadi hiburan yang menyakitkan. Mengapa? Karena siapa pun yang sedang mengalami pengkhianatan itu, dia sungguh marah, benci, dendam, dan sakit hati.
Hal itu benar dan dapat dipahami! Saat kita mulai sadar dan berani melihat hidup ke depan, pada saat itu pula kita mulai memikirkan hidup baru. Kita bagai terjaga dari mimpi buruk. Kita bisa mengandalkan, bahwa kasih itu obat penyembuh dari kemarahan, kebencian, dendam, dan sakit hati yang disebabkan oleh pengkhianatan itu.
Jika ada kasih, ketika mengingat tentang pengkianatan itu, rasa sakit itu tidak seperih yang lalu. Karena kita menyadari, bahwa pengalaman itu harus dibuang jauh. Kita harus berbenah diri memperbaikinya.
Jika ada kasih, buluh yang terkulai itu tidak dibiarkannya patah, tapi hendak ditegakkan kembali. Maka, kuulangi lagi pertanyaan di atas, “masih adakah kasih di hatimu, ketika menghadapi pengkianatan?
Hari ini Yesus dikhianati oleh salah seorang murid-Nya: Yudas Iskariot! Kok bisa? Bisa, bahkan sungguh keterlaluan dan menjengkelkan sekali. Yudas amat merendahkan harkat dan martabat Yesus demi uang untuk diserahkan kepada Imam-imam kepala! Duh…!
Sungguh, pengkianatan itu tidak menyenangkan. Karena itu jangan mudah mengkhianati, baik itu janji, kesepakatan, dan cinta. Sebab, itulah yang akan terjadi, yaitu ungkapan-ungkapan ketidak-puasaan dan kekecewaan.
Ketika dikhianati, apa yang harus kita lakukan sebagai orang Kristiani? Ampuni, kasihi, dan doakan! Tidak ada kompromi, kita murid Yesus yang Pengasih dan murah hati. Karena saat ada pengkhianatan itu harus ada kasih yang menyembuhkan!
Sebaliknya, jika luka dikhianati itu tidak segera diobati dengan kasih pengampunan, hidup kita makin tidak tenang, tersiksa dan sakit.
Mari kita pahami belas kasih Yesus yang luar biasa. Lewat luka lambung Yesus yang di salib itu, kita basuh dan sembuhkan luka jiwa agar hidup kita tentram, damai, dan bahagia.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

