Topik “ketangguhan di balik kesulitan,” kita akhiri dengan tulisan temanku ‘pemulung’ yang kuterima kemarin sore.
Selamat sore, Pak. Semoga tetap sehat dan bahagia.
Jujur saya malu bercerita tentang pekerjaan saya. Tapi, ketika Bapak menulis: “Jangan malu jadi pemulung asal ikhlas dan tak merugikan orang lain,” saya jadi berani berbagi kisah ini.
Memulung itu berat. Selain keringat, saya juga basah kuyup dengan rasa: malu, rendah, hina, dan terpinggirkan.
Tapi dari hari demi hari rasa tidak berharga itu hilang. Dari perjalanan memulung, kerap saya alami perjumpaan kasih antar sesama pemulung dan dengan masyarakat yang tidak kukenal sebelumnya. Tidak sedikit yang membesarkan hati melihat saya kecewa dan nyaris putus asa oleh lelah lahir batin. Ada juga yang berbagi rezeki dengan cara mengumpulkan kardus, botol, kaleng di rumahnya, dan diberikan pada para pemulung, termasuk saya. Ada juga yang memberi uang atau nasi kotak/ bungkus, padahal tidak kenal. “Siapa saya ini, sehingga mereka baik?” Pengalaman seperti itu bagi saya ini ibarat obor, ketika saya berada di lorong hidup yang gelap. Sebagai pemulung yang Katolik, menyegarkan imanku, bahwa “Kasih Tuhan itu nyata.”
Terima kasih, ya, Pak, karena tidak melupakan keluarga kami.
“Nggih, Mas.Terima kasih juga telah berbagi kisah yang sungguh berani,” jawabku.
Salam sehat.
Jlitheng

