“Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah.”
Allah menyingkapkan inti iman kami: Allah adalah kasih. Kasih yang bukan sekadar kata atau perasaan, tapi kasih yang nyata, lebih dahulu Allah mencurahkan kepada kami dalam Putra-Nya, Yesus Kristus. Sebelum kami mampu mengasihi, Ia yang terlebih dahulu mengasihi kami tanpa syarat dan tanpa hitung-hitungan.
Dalam Injil, kami melihat kasih itu berwujud. Yesus memandang orang banyak dengan hati yang tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak membiarkan mereka pergi kelaparan, tapi justru mengajak para murid untuk terlibat: “Kamu harus memberi mereka makan.” Apa yang tampak mustahil bagi manusia, jadi mungkin saat diserahkan ke dalam tangan-Nya.
Sering kali, ya, Tuhan, kami merasa kecil dan tidak mampu. Kami melihat kemiskinan, penderitaan, dan kesedihan dunia. Tapi kami merasa tidak cukup kuat, tidak mempunyai banyak, dan tidak cukup layak. Tapi Ia mengajar kami, bahwa kasih sejati tidak diukur dari kelimpahan, melainkan dari kesediaan. Lima roti dan dua ikan, yang dipersembahkan dengan iman, dilipatgandakan-Nya jadi berkat bagi banyak orang.
Mazmur hari ini memuliakan Raja yang membela orang lemah, menolong orang miskin dan tertindas, serta menghadirkan damai sejahtera yang berlimpah. Bentuklah hati kami seturut hati-Mu. Tajamkan kepekaan kami untuk mendengar jeritan yang sering tak terdengar, dan gerakkan langkah kami untuk bertindak dengan kasih dan keberanian.
Ajarlah kami, ya, Bapa, bahwa kasih tidak berhenti pada doa dan kata-kata, tapi harus menjelma dalam perbuatan nyata: memberi makan yang lapar, menghibur yang terluka, dan setia berdiri di sisi mereka yang tersingkir. Tanamkan dalam diri kami komitmen khusus untuk memperhatikan orang miskin dan yang menderita, agar keadilan dan damai-Mu sungguh bertumbuh melalui hidup kami.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

