| Red-Joss.com | Pandanglah Yesus yang tergantung di salib itu. Apa yang dirasakan dan bagaimana dengan perasaan kita?
Sungguh suatu anugerah Tuhan yang luar biasa, ketika kita mau membuka hati dan diperkenankan untuk ikut merasakan penderitaan-Nya.
Semua itu dilakukan Yesus untuk menebus dosa dan keselamatan kita yang sangat dikasihi-Nya.
Jika Yesus sangat mengasihi kita, apakah kita tidak mau mengasihi sesama?
Menjadi murid Yesus itu amat berat, apalagi kita harus meneladani dan jadi saksi-Nya!
Sesungguhnya yang berat itu, jika kita tidak mau diutus melakukan Amanat Agung-Nya. Mewartakan Injil ke segala makhluk agar yang percaya diselamatkan (Mark 16: 15-16).
Allah tidak pernah lelah mengasihi dan mengampuni kita agar kita pun melakukan hal yang sama kepada sesama.
Kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri.
Sesungguhnya, mengasihi sesama itu tanpa alasan dan tanpa sekat.
Mengasihi itu tidak kenal status dan kasta.
Mengasihi itu tanpa menyalahkan, memojokkan, dan menghakimi. Tapi mengingatkan agar bangkit kembali dan mengajak serta untuk jadi manusia baru.
Mengasihi sesama dengan ikhlas dan mendoakannya itu berarti kita melepaskan dan membuang energi negatif, sehingga hidup kita tanpa beban yang mengganjal di hati.
Semangat mengasihi, karena Yesus sudah bangkit. Alleluya!
…
Mas Redjo

