Red-Joss.com – “Jika suatu hari nanti kamu sudah menemukan bahagia yang kamu cari, kabari aku agar aku bisa kirim doa untukmu agar kamu nyaman di sana. Bersama seseorang yang kamu pilih hatinya untuk kamu berlabuh. Aku harap, kamu tidak lagi mempermainkan hatinya sepertiku selama ini dengan alasan kamu tak bahagia kembali, itu tak baik bagi hidupmu.“
Dulu saya pikir, kata-kata di atas hanya klise, fiktif, tidak nyata. “Mana ada seorang yang sudah disakiti hatinya, dirobek-robek lembar hidupnya, punya kesabaran sebesar itu untuk memaafkan?“
Ternyata ada. Sungguh! Dia adalah sahabatku.
“Ini lho, Pak. Dia dengan wil-nya,” kata sahabatku Minggu malam yang lalu, di bawah video yang dia kirimkan.
“Itu video siapa, Jeng?” desakku.
“Suamiku, Pak,” jawabnya.
Saya telepon dia dengan hanya satu pertanyaan pendek: “Benar dia, Bu?”
“Leres, Pak.”
Tidak ada nada menghakimi. Saya sedang belajar melepasnya.
“Terimakasih, ya, Pak. Salam pagi yang hadir menjadi temanku,” tulis Ibu ini.
Kata-kata yang nyaris sama muncul dari mulut seorang Romo, belum tua, bukan tentang seorang wanita. tetapi tentang tubuhnya yang lemah karena stroke.
Dari video yang dikirim, saya melihat mata kirinya juga ditutup. “Kalau saya buka, pandangan mata jadi double, mas. Maka saya tutup saja”.
Sambil terus berlatih untuk berjalan, tertatih dan satu tangannya disangga (Jawa: kempleng), tak ada nada marah atau kesal. Beliau sedang dalam proses memahami diri lebih dalam tentang rencana Tuhan lewat stroke yang dideritanya ini.
“Terimakasih, Mas, telah mengingat, menyapa dan setiap pagi mengajakku untuk mencari diri lebih dalam lewat Salam Paginya,” kata Romo itu.
Lewat peristiwa palungan, Tuhan mengundang kita untuk memberi waktu kepada orang yang lama terlupakan.
Dengan menulis ini saya menjawab undangan Tuhan itu.
Tak henti menjadi pewarta berkat.
…
Jlitheng

