Masih adakah kasih di hati ini, ketika menghadapi pengkhianatan? Untuk memberi jawaban atas pertanyaan ini, kita harus berhati-hati. Bisa jadi kita berhadapan dengan orang yang sangat marah, karena telah dikhianati.
Banyak orang yang mengalami pengkianatan: baik dikhianati oleh pasangan, rekan bisnis, saudara sendiri, teman, sahabat, dan banyak lagi. Jika diteruskan, makin panjang daftar pengkhianatan itu. Tapi yang tertinggal dari pengkhianatan itu adalah marah, benci, dendam, dan sakit hati.
Di tengah pengkhianatan itu ada kasih yang terkubur. Kasih itu kehilangan daya, kekuatan, dan jadi sirna. Kasih itu tinggal cerita, tidak mampu memberikan kekuatan, dan kalah. Kasih itu hanya jadi hiburan yang menyakitkan, mengapa? Yang mengalami pengkhianatan itu jadi marah, benci, dendam, dan sakit hati. Sehingga dada ini menyesak dan seperti hendak meledak.
Hal itu dapat dimaklumi dan dipahami! Tapi saat kita mulai sadar, terjaga, dan melihat hidup ke depan. Kita memikirkan hidup yang baru. Kita bisa mengandalkan, bahwa kasih itu adalah obat penyembuh dari kemarahan, kebencian, dendam, dan sakit hati yang disebabkan oleh pengkhianatan itu.
Jika tidak ada kasih, mengingat tentang pengkhianatan itu terasa sakit, perih, dan hancur. Dengan adanya kasih, kita mulai bisa memperbaiki yang hancur itu. Dengan kasih pula, buluh yang terkulai itu tidak dibiarkan patah, tapi ditegakkan kembali.
Pertanyaan di atas itu diulangi lagi, “Masih adakah kasih di hati, ketika menghadapi pengkhianatan?”
- Hari ini Yesus dikhianati oleh salah satu dari murid-Nya: Yudas Iskariot. Kok bisa? Bisa. Bahkan terlalu, tidak tahu diri, dan menjengkelkan! Tapi kita mau bereaksi apa lagi?
- Pengkhianatan itu selalu tidak menyenangkan. Karena itu kita tidak boleh mengkhianati, baik itu janji, kesepakatan, dan cinta. Sebab, yang terjadi adalah ungkapan-ungkapan ketidak-puasaan.
- Ketika ada orang yang mengalami pengkhianatan, dan datang kepada saya, “Romo, saya tidak mau mengampuni dia lagi!” Saya akan bilang, “Kamu salah. Kamu bukan murid Yesus. Kamu bukan orang Katolik.” Setelah itu kamu mungkin mau berargumen dengan saya dan berusaha membenarkan diri, silahkan, tapi saya sudah mengatakan yang benar, bahwa “saat ada pengkhianatan itu harus ada kasih yang menyembuhkan.”
- Jika dirimu memahami, mari kita lakukan untuk menyembuhkan luka-luka pengkhianatan itu dengan kasih. Tapi, jika kamu mau terus membiarkan luka itu, ya, silahkan dengan pilihan kebebasanmu. Tapi ingat, kamu akan dikuasai amarah, benci, dendam, dan sakit hati di sepanjang hidup ini.
Sebagai murid Yesus, hendaknya kita senantiasa mengasihi sesama dan murah hati!
Rm. Petrus Santoso SCJ

