| Red-Joss.com | Seorang murid bertanya kepada Guru Bijak, “Guru, bagaimana caranya agar orang lain tidak bisa merendahkan kita?”
“Rendahkan dirimu serendah-rendahnya agar orang lain tidak bisa merendahkan kau lagi.”
Murid itu terperangah. Apakah itu mungkin? Guru Bijak tersenyum, dan memahami.
“Caranya sederhana, jangan membalas. Tapi kita belajar untuk mengampuni, mengasihi, dan memberkati orang itu agar kita ikhlas menjalani.”
Tidak mudah memang, bahkan teramat sulit, jika kita belajar untuk menerima kenyataan pahit itu. Meskipun dihina, diremehkan, atau difitnah. Kita mengalah, dan selalu mengalah tanpa batas dengan memaafkan dan mendoakannya!
Bagi banyak orang, diam itu lemah, penakut, dan bakal hancur sia-sia.
Berbeda jika memprotek diri dengan melawan untuk memenangkannya agar orang lain tidak berbuat sewena-wena.
“Jika kita melawan, Ngger, menang kalah kita menjadi abu. Apa makna perlawanan dan perjuanganmu itu?”
Menang kalah itu sesungguhnya kita yang rugi. Ketika melawan, dan siapa pun yang memenangkannya, kita bakal kehilangan teman, bisa jadi makin benci dan mendendam. Sehingga perselisihan itu tiada kunjung selesai.
Berbeda, jika kita mau mengalah untuk memaafkan, mengasihi, dan mendoakan agar orang itu sadar diri.
Dengan mengalah dan mengasihi, maka perselisihan itu disudahi.
Dengan berani memaafkan dan mendoakan orang lain, kita belajar hidup ikhlas. Berdamai dengan diri sendiri. Kita melepas beban pikiran dan hati, tanpa merasa kehilangan.
Sebaliknya bagi orang yang biasa menghina, menyebar hoaks, atau memfitnah itu makin penasaran dan benci, ketika tidak ditanggapi atau memperoleh reaksi dari orang yang bersangkutan. Bahkan jiwanya makin sakit dan menderita.
Sesungguhnya dalam hidup ini kita tidak mencari yang terhebat, atau menjadi pemenang. Tapi kita diajak untuk sadar diri, jalan keutamaan untuk memahami orang lain dan
menjadi rendah hati.
Sesungguhnya, apa pun yang kita perlakukan pada orang lain itu kita melakukan hal yang sama pada diri sendiri.
Sesungguhnya alam itu merespon balik perbuatan kita plus memberi bunganya.
Ketika kita mampu mengendalikan kan ego sendiri, kita menjadi kuat dan tangguh. Dengan mengenali jatidiri, yang kita punyai adalah cinta dan belas kasih pada sesama.
Hidup saling menghasihi, karena Allah adalah kasih!
…
Mas Redjo

