Sejenak menepi satu pelemparan sebelum ke kantor istri. Aku tulis memori ‘kasih Ibuku’. Kasihnya kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang Surya menyinari dunia.”
Ungkapan kasih Ibu yang tulus itu sering kali begitu sepi dari tepuk tangan. Kasih tulus yang berakar dari hatinya yang ikhlas itu tanpa harap balasan, memang sering kali tidak mendapatkan pengakuan atau tanggapan sepadan dari orang lain, bahkan dari saya, anaknya.
Seperti lagu Kasih Ibu (gambaran kasih orangtua). Kasih tulus adalah kasih yang sering kali diberikan secara diam-diam, tanpa heboh atau mencari perhatian. Ini bisa berupa kasih sayang yang tidak terlihat, bantuan yang diberikan tanpa pamrih, atau kebaikan yang dilakukan dengan tulus hati.
Tepuk tangan adalah bentuk apresiasi yang umum, tapi terkadang tidak mewakili nilai sebenarnya dari kasih yang diberikan. Kasih yang tulus lebih berharga daripada pengakuan, karena ia berakar dari hati yang ikhlas dan tidak mengharap balasan.
Meskipun mungkin tidak ada tepuk tangan yang keras, kasih yang tulus tetap memiliki nilai yg besar. Ia memberikan kebahagiaan bagi pemberinya, menciptakan kebaikan di dunia, dan dapat jadi sumber kekuatan bagi penerimanya.*
Jadi, ungkapan ini mengingatkan kita, bahwa kasih yang tulus itu sering kali lebih bermakna daripada pengakuan yang ramai. Kita mungkin tidak selalu mendapatkan tepuk tangan, tapi kita tetap harus berusaha memberikan kasih yang tulus karena nilai yang berharga di dalamnya.
“Yang rukun satu sama lain seperti tulusnya kasihku padamu,” pesan Ibu sebelum kembali kepada Penciptanya.
Salam sehat.
Jlitheng

