Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Nilai Anda ditentukan,”
Siapakah Anda?”
(Jandt)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini saya turunkan kembali, karena terinspirasi oleh sebuah tulisan dalam kolom Opini, harian Kompas, Jumat (21/6/2024), berjudul “Anda Anak Siapa?”
Ditulis oleh Syafiq Basri Assegaff Pengajar dan asisten Direktur Program Pascasarjana LSPR Institute of Communication and Busines, Jakarta.
Mengapa saya tertarik untuk menurunkan kembali roh spesial dari tulisan ini?
Saya sangat tergelitik oleh fenomena budaya ‘ascription’ (askripsi), yakni, gelar, posisi, dan kekuasaan sangat memengaruhi, bagaimana orang memandang (menilai) Anda.
Fenomena: “Achievement – Oriented Cuktures dan Ascription – Oriented Cultures“
Di dalam masyarakat yang menganut paham ‘Achievement’: seorang pemimpin diandalkan oleh masyarakat, karena prestasi dan raihan prestasinya. Aspek keunggulan / prestasi itu yang dijunjung tinggi.
Sebaliknya, di dalam masyarakat yang menganut paham ‘Ascription’, seorang pemimpin diandalkan oleh masyarakat terutama, karena aspek gelar, posisi, dan kekuasaannya.
Realitas di Lapangan
Laporan The New York Times, 9 Desember 2014 dalam penerbangan dari New York ke Seoul, karena gara-gara pramugari Korean Air menyuguhkan kacang macadamia dalam kantong, dan bukan menggunakan piring spesial, maka putra pemilik Korean Air itu tersinggung berat.
Bahkan oleh Cho Hyan – ah (anak pemilik Korean Air), pesawat itu pun diminta untuk kembali ke bandara, karena ia merasa diperlakukan tidak sopan.
Sekalipun kemudian Cho Hyan – ah kelak menyesal dan mengundurkan diri, sementara sang ayah Cho Yang – ho meminta maaf kepada publik Korea dan mengakui, bahwa ia salah dalam mendidik anaknya. “Silakan marahi saya. Ini adalah tanggung jawab saya,” katanya.
Lain Lubuk, Lain Ikannya, Lain Padang, Lain Belalangnya
Sebaliknya, belum lama ini ada peristiwa besar dari sikap yang ditunjuk oleh Presiden AS Joe Biden.
Beliau menunjukkan keteladanan untuk tidak menggunakan kekuasaannya guna mengurangi hukuman atau pun memberi grasi bagi putranya, Hunter Biden, yang divonis bersalah atas kasus pemilikan senjata api ilegal tahun 2018.
Apa kata Biden, “Saya akan mematuhi keputusan juri, dan tak akan memberikan pengampunan,” kata Biden (Kompas 13/6/2024).
Bertolak dari sikap kedua tokoh besar dunia (Cho Yang – ho dan Joe Biden), sepintas kita dapat mengambil sebuah konklusi, bahwa kedua sikap yang diambil itu sangat bergantung pada budaya yang dianut sebuah bangsa.
Inilah sebuah sikap kontradiksi yang terjadi di lapangan atau dalam arena kehidupan yang dilandasi oleh perbedaan aspek budaya.
Bagaimana dengan Budaya Bangsa Kita?
“Kamu, anak siapa? Pertanyaan ini akan dikesankan sangat tidak sopan alias biadab, jika diajukan kepada anak seorang pejabat di negeri ini, bukan?
Anak Pak Lurah akan marah kepada sang penanya. Apalagi jika pertanyaan itu diajukan kepada putra seorang Bupati atau Gubernur dan apalagi kepada putra seorang Presiden.
Inilah dimensi realitas hidup, karena perbedaan budaya serta kebiasaan yang berlaku di dalam sebuah masyarakat.
Oleh karena itu, hargailah setiap perbedaan yang ada di dalam masyarakat lewat pemahanan dan hati yang terbuka.
Yang pertama dan utama, hendaknya kita senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kodrat kemanusiaan!
…
Kediri, 24 Juni 2024

