Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Seluruh rangkaian tata hidup serta kehidupan sang anak manusia, berlangsung di atas tata ruang dan waktu.
Di dalam relungan sang ruang dan waktu inilah, aneka pentas kehidupan sang anak manusia mengepakkan sayap-sayapnya.
Rangkaian perjalanan sang manusia antara ‘ruang dan waktu’, itulah yang disebut ‘kronologis’.
Secara semantik (tata kata), kata kalender, berasal dari kata Inggris modern ‘calendar’. Kata calendar, berasal dari kata bahasa Prancis, ‘calendier’, yang berasal dari kata bahasa Latin ‘kalendarium’.
Yang sangat menarik, bahwa kata kalendarium, justru bermakna: “catatan pembukuan utang atau buku catatan bunga pinjaman.”
Kata kalendarium, ternyata berasal dari kata ‘kalendae,’ yang berarti ‘hari pertama dari setiap bulan’.
Berdasarkan KBBI, kalender berarti, daftar hari dan bulan dalam setahun.
Selain makna semantis, secara mondial, dunia pun mengenal nama sejumlah kalender yang disusun berdasarkan beberapa aspek. Antara lain, berdasarkan aspek religi, etnis, atau pun historis.
Maka, kini dunia pun mengenal antara lain, kalender Masehi (anno domini), kalender Islam, kalender Cina, kalender Jawa, dan Batak.
Sejatinya, sebuah kalender hadir justru, karena adanya keinginan manusia di dalam suatu komunitas apa pun demi menjadwal aneka aktivitasnya.
Secara spesifik, makna kalender di dalam hidup kita ialah sebagai sarana pencatat tanggal dan waktu. Rentangan waktu dari tanggal ke tanggal dan dari hari ke hari. Antara tanggal 1 sampai dengan tanggal 28 atau pun 31. Juga dari hari ke hari: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Rangkaian waktu antara hari dan tanggal yang terjalin rapi secara kronologis inilah yang termuat di dalam sehelai kalender.
Sesungguhnya, apa isi serta roh dari sebuah kalender di dalam penghayatan serta kesadaran kita?
Di dalam konteks ini, setiap manusia mungkin memaknakannya secara berbeda-beda.
Ada orang yang tampak tersentak serta cemas saat menatap kalender. Ada orang yang berurai air mata, ada orang yang bahkan berteriak histeris, ada orang yang segera mengepalkan tinjunya ke angkasa, dan ada pula orang yang segera berkatup tangan, berlutut, dan mulai khusuk berdoa.
Mengapa manusia bersikap demikian?
Jawablah dengan jujur serta tulus ‘apa maknanya,’ tentu, sesuai situasi serta kondisimu!
Kediri, 24 Juli 2023

