Red-Joss.com | Walaupun hanya sekejap, kenangan itu terus melekat sepanjang hayat. Nilainya sangat besar. Sebenarnya tak seorang pun sedemikian miskinnya, sehingga tak bisa membagikan hal itu atau yang sebegitu kayanya hingga tak membutuhkan. Apa yang sedang kita bicarakan? Jawabnya: Sebuah “senyuman”.
“Mendung tidak jadi murung, ketika kau mau tersenyum, sebab senyummu adalah mentari yang kau cipta di saat cuaca hati temanmu sedang sepi.”
Ketika kita tersenyum, kita tidak hanya merasa senang, tapi juga membawa sinar cahaya ke dalam kehidupan orang lain.
Harus diakui, ada sebagian orang yang tidak mudah tersenyum, ‘termasuk saya’. Oleh karena itu saya belajar mengungkapkannya lewat kata-kata.
Hari ini saya mengajar di UMN. Kelas pertama online, karena kelas hybrid. Namun saya tetap berangkat pagi dan berada di kelas, walau online, sebab kelas berikut regular.
Lima menit setelah kelas saya mulai, masuk satu mahasiswi dan satu lagi.
“Lho, online… mengapa masuk?” tanyaku heran. Jawaban mereka lebih mengherankan: “Kami berdua masuk, siapa tahu Bapak butuh bantuan.” Hati saya sungguh tersenyum dan … ketika kelas usai… saya ungkapkan senyum lewat kata-kata ini: “Nes dan Len. Tahu nggak… kehadiran kalian membuat udara ini tetap sejuk, walau matahari terik bersinar,” kataku. “Terimakasih kalian telah sangat baik untukku.”
Mereka tidak menjawab apa-apa kecuali tersenyum dan berucap : “Ah, Bapak…”
“A Smile is A Spiritual Perfume You Spray On Others” yang wanginya menetap dalam hati selamanya…
Semoga puasa ini membuat kita makin mahir tersenyum.
Jliteng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

