Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tubuhmu bukanlah besi dan beton. Secara fisik,
dia pun hanya terdiri dari darah dan daging.”
(Catatan Kesehatan tentang Rintihan Bahasa Tubuh)
Tulisan yang bertemakan kesehatan ini, bertolak dari “bagaimana idealnya sikap kita manusia,” di kala tubuh jasmani mereaksi dengan merintih ringis.
Dari: (Asuhan Dr. H. Misri Hasanto, M. Kes.) Pemerhati sosial kesehatan.
Bahasa Tubuh Manusia
Tulisan ini bertujuan mengajak kita agar bersikap peka dan arif dalam membaca serta mencermati fenomena reaksi tubuh jasmani. Riil, bahwa tubuh kita memiliki bahasa khas yang perlu disikapi secara arif pula.
Sejumlah fenomena disajikan, bagaimana reaksi alamiah dari tubuh fisik yang sering kali tidak kita acuhkan.
Kala tubuh ini merasa lelah, saat itu dia sedang merayu kita. “Aku sungguh ingin istirahat, dan jangan dicekoki dengan aneka cairan berenergi, ya!”
Tatkala kita diserang kantuk berat, saat tubuh ini berkata, “Aku sungguh ingin tidur. Tapi jangan dicekoki dengan secangkir kopi pahit, ya!”
Di kala keringat tubuh berbau asam, tubuh ini mengeluh, “Aku sedang keracunan, ayo, segera keluarkan.” Namun, kita malah melumurinya dengan parfum deoderant.
Di saat kotoran kita encer atau keras bagai batu dan berbau sangat menyengat, sesungguhnya dia sedang merintih, “Aku sedang meradang, hindari makanan berpestisida dan aneka pengawet, ya!”
Juga di saat tengkuk ini terasa berat bagai menjunjung batu raksasa, sesungguhnya tubuh ini berkata, “Maaf, aku sedang penuh sumbatan. Tolong, cek tekanan darah atau asam urat, ya!”
Di saat-saat genting itu, sejatinya tubuh kita ingin menjalin relasi spesial. Dia, sedang tulus ingin curhat dengan kita.
Ayo, pedulilah dan segera menyikapi rintihannya!
Kediri, 11 Maret 2024

