Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kala hati berkata tidak untuk semua rayuan manis apa pun.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
| Re-Joss.com | Mungkin Anda masih ingat atau terngiang-ngiang akan sumpah serapah berupa tekad membara dari sebuah parpol di tanah air beberapa tahun silam.
Sejumlah pria dan wanita berbaju biru, berwajah waspada dengan gesture memikat pun lantang bersumpah, “Katakan tidak, pada korupsi!”
(Diulang hingga tiga kali).
Selanjutnya, Anda pun boleh bertanya kepada sepenggal sejarah. “Masih ada dan di manakah sikap konsistensi dan gema dasyat dari sumpah palsu itu?”
“Nasi telah menjadi bubur!” Jadi, apa yang sudah terlanjur dan bahkan sengaja dirusakkan, jangan dipaksakan untuk kembali menjadi utuh, bukan?
Tentu, nasi masih dapat menjadi bubur, tapi bubur, tak pernah bisa menjadi nasi, bukan?
Tulisan refleksi ini, sengaja dirangkaikan kepada semesta raya ini, sebagai pelampiasan rasa kecewaku pada seluruh realitas praktik hidup pahit pedih di negeri dongeng nan jelita ini.
Ya, jika Anda dan saya dengan sikap berani serta cermat untuk mengikuti dengan nurani bersih akan praktik serta modus operandi kotor; maka patutlah kita akan berkata, “saya merasa sungguh sedih dan prihatin!”
“Kala Hati Berkata Tidak,” artinya di saat Anda berani untuk berkata, tidak, pada semua rayuan gombal.
Di manakah akan kita jumpai sosok pribadi sekokoh seagung ini?
Di manakah dia bertakhta? Di dasar sungai ataukah di pucuk angkasa nan biru? Ataukah mungkin juga jauh di dasar lubuk nurani kita?
Tatkala aneka praktik hidup bernegara dan berbangsa kita kian morat-marit, di manakah sang kebenaran sejati itu berada?
Tatkala wajah agung Bunda Pertiwi kita tercoreng oleh aneka keputusan serta praktik hidup, yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan; di manakah si Ratu Adil itu bersembunyi?
Tatkala orang-orang di negeri jelita ini sangat gampang dikibuli dan dininabobokan dengan janji-janji palsu, di manakah Dewa Kebenaran itu bertakhta?
Tatkala sang mamon dan aneka tetek bengek yang sekadar bermulut manis ini merajai kehidupan, maka segera akan roboh surau hidup iman kita.
Dalam konteks ini, ternyata janji dan sumpah palsu, “katakan tidak pada korupsi,” hanyalah sebentuk sikap inkonsistensi belaka.
Jika kita akan terus bersikap demikian, maka kita pun seolah-olah sedang menarikan tarian kepalsuan di dalam kehidupan ini.
Sejujurnya, menilik sepak terjang praktik hidup para pemimpin besar di negeri ini, berarti kita sungguh menantikan para Dewa penyelamat yang berani berkata tidak, secara konsisten dan konsekuen.
Tatkala harta dan takhta telah merajai kehidupan, maka akan lenyaplah roh sang kebenaran serta keadilan sejati!
…
Kediri,ย 7ย Meiย 2024

