Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda boleh kehilangan apa saja, asalkan tidak kehilangan iman dan pengharapan hidup.”
(Didaktika Hidup Beriman)
Pria dengan Sepotong Balok Kayu
Pernahkah Anda mendengar dan dengan saksama mencermati kisah seorang pria yang justru sanggup bertahan hidup hanya dengan memegang erat pada sepotong balok kayu?
Hari naas itu, membuat beratus-ratus orang tercebur dan akhirnya mati mengenaskan di tengah gelora lautan.
Saat itu, kapal yang mereka tumpangi pecah di tengah laut lepas. Nah, di balik peristiwa tragis ini, justru terdapat seorang pria, yang masih sanggup bertahan hidup setelah beberapa hari terombang-ambing dipermainkan arus gelombang laut.
Setelah sekian lama, ia diseret oleh arus ke daratan. Dalam kondisi yang sudah sangat lemas, pria itu digotong beramai-ramai ke daratan oleh sejumlah orang.
“Apa yang menyebabkan Anda, akhirnya sanggup untuk bertahan hidup setelah sekian lama dipermainkan arus gelombang di tengah laut?”
Sambil mencoba untuk menahan tangis, maka dibukakan matanya dan dia berusaha untuk berkata-kata. Demikian kesaksiannya!
“Ya, anehnya, saya tidak pernah berpikir, bahwa saya akan mati, sekali pun mataku ini, sempat melihat mayat-mayat dengan perut menggelembung terombang-ambing dipermainkan arus laut.
“Saya sadar, walau hanya dengan memeluk erat pada sepotong balok kayu, tapi tubuh ini terasa nyaman dan kuat. Saya sangat yakin, bahwa saya tidak akan mati.”
“Ya, ada setitik harapan di dalam hati, sekali pun ada juga rasa takut.”
(Dari Berbagai Sumber)
Aneka Kisah Hidup telah Membuktikan
Tidak sedikit terjadi keajaiban di luar nalar manusiawi kita. Ternyata, masih ada orang, yang justru sanggup untuk bertahan hidup tatkala mereka telah kehilangan segala-galanya.
Cermatilah peristiwa berikut ini, sebagai bukti konkret, bahwa dari balik tragedi hidup yang sungguh mencekam jiwa, namun ternyata masih juga ada orang yang sanggup bertahan hidup.
- Seorang pria cacat yang tidak memiliki kedua kaki, tapi ia sukses dalam hidupnya. Setiap hari ia beraktivitas dengan posisi berbaring, namun ia sangat kreatif menganyam aneka hiasan dari daun lontar.
- Seorang Ibu yang sangat miskin, tapi sanggup menghidupi ketujuh orang anaknya, hanya dengan jadi seorang karyawati harian di sebuah rumah makan? Lebih mengagumkan lagi, karena kelima orang putranya, akhirnya sanggup meraih gelar kesarjanaan.
Ada Apa dan Mengapa ada Keajaiban di Balik Kehilangan itu?
Dalam konteks ini, orang Latin beradagium, bahwa hidup itu adalah sebuah perjuangan, “Vivere militare est.” Ternyata ada keajaiban yang justru terjadi di balik kondisi ketiadaan segalanya itu.
Dalam kondisi yang serba terbatas ini, hal yang mutlak Anda perlukan ialah :
(1) Mutlak tetap memiliki sekeping pengharapan. Karena bukankah, pengharapan itu, ibarat setitik api yang sanggup membakar dan menguatkan?
(2) Mutlak memiliki daya juang dan daya tahan fisik – mental yang mumpuni. Karena bukankah tanpa daya juang dan daya tahan secara fisik- mental, mustahil Anda akan sanggup bertahan di dalam tragedi hidup?
Konklusi
Mari kita belajar dan terus mau belajar, agar sanggup jadi pribadi-pribadi yang teguh beriman, kuat secara fisik dan mental.
Kediri, 6 Agustus 2025

