Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Siapakah engkau, wahai sang angin, sang api, dan sang air?”
(Pada Sepotong Catatan)
…
“Tiga A”
Manusia sungguh meyakini, bahwa “sang air, angin, dan api” adalah ketiga kekuatan dasyat dari alam ini.
Nama dan inisial dari ketiganya saya ringkas jadi ‘tiga a’ alias (Tiga A).
Tulisan refleksi filosofis ini saya tempatkan di awal musim penghujan (2024), berupa erupsi gunung berapi, dan berbagai bencana lainnya yang melanda negeri kita, Indonesia.
Bala Bencana Siapakah Engkau
Siapakah engkau
wahai saudaraku bala bencana?
Rupa dan swaramu sayup senyap
namun bongkahan kepedihan telah kau rendakan di sini
Siapakah engkau
wahai sang angin, air, dan api?
(Fr. M. Christoforus, BHK)
Air, angin, dan api itu ternyata menyimpan kekuatan yang sangat dasyat membahana. Dunia beserta isinya adalah para saksi bisu akan kesengsaraan manusia yang diakibatkan oleh ganasnya terjangan bencana ini.
Jika kita mau jujur dan hidup reflektif, ternyata bencana alam adalah bagian tak terpisahkan dari ruang kehidupan ini. Kehadiran bencana alam yang bahkan disapa sebagai saudara oleh penulis puisi ini, sejatinya telah jadi sahabat terdekat kita.
Bukankah pengalaman hidup manusia telah mengajarkan kita, bahwa pada setiap musim, setiap waktu, dan bahkan di setiap saat bencana itu dapat datang dan menghadang kenyamanan hidup kita?
Semoga roh dan gaung pun gema dasyat dari spiritualitas tulisan ini, sanggup menyadarkan kita akan ekses negatif dari bala bencana ini.
Tremendum et Fascinosum
Mungkinkah kehadiran bencana yang sanggup mengguncangkan nurani dan bahkan nestapa hidup kita ini adalah cambukan dan cemeti didikan dari Gusti Allah juga?
Dia yang dengan sengaja menyodorkan kehendak-Nya lewat kedasyatan alam ini, mau menyodorkan juga sepotong nyanyian rindu-Nya, agar kita boleh kembali pada rangkulan kuasa kasih-Nya?
Masih ingatkah di kala Anda dan saya keletihan mengarungi pasir pantai kehidupan?
Dia ternyata masih rela juga untuk menggendong letih jiwa kita?
Sejatinya yang tertinggal di atas pasir pantai kehidupan ini, ternyata hanyalah telapak sepasang kaki. Itulah jejak kaki Sang Maha Belas kasih!
…
Kediri, 13 November 2024

