Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hendaknya semua
orang selalu bersikap
mawas diri.”
(Filosofi Kaca Benggala)
Agar tindakan sewenang-wenang tidak berulang, rupanya diperlukan kaca benggala (cermin besar). Suatu cermin yang dapat memperlihatkan wajah keseluruhan, terutama yang tidak terlihat, yaitu kekurangan dan kelemahan diri sendiri. Cermin yang menyadarkan untuk membersihkan diri sebelum menghakimi pihak lain.
(Demikian paragraf akhir dari tulisan A. Agoes Soediamhadi) Langenarjan, Yogyakarta kolom Opini, Surat kepada Redaksi, berjudul “Kaca Benggala Sukatani,” (Kompas, (26/2/2025).
Apa itu Kaca Benggala?
Kaca benggala ialah cermin besar yang tertulis di dalam kisah Ramayana yang dimiliki oleh Rahwana yang digunakan oleh putra Hanoman untuk memantulkan kembali sorotan mata mematikan anak Dasamuka sebagai musuhnya. Cermin ini berfungsi pula sebagai tameng untuk menyerang balik.
Kaca Benggala dalam Hidup Kita
Mencermati aspek historis, pemaknaan, filosofi, dan peribahasa dari ‘kaca benggala,’ bagi penulis, hal ini justru sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. Mengapa? Agar dalam hidup ini, kita senantiasa bersikap mawas diri.
Kepada kita diajak agar senantiasa sadar dan tahu diri. Untuk itu, hendaknya kita selalu rajin mau mengaca alias bercermin diri.
Hindarilah sikap-sikap reaktif dan bermain kuasa dalam hidup ini, yang justru berdampak merendahkan derajat hidup serta aspek kemanusiaan kita.
Maka, secara filosofi, kepada kita diingatkan kembali agar senantiasa sudi mau mengaca diri. Jika ternyata belum tampak jelas keberadaan tampang wajah kita, maka gunakan kaca benggala itu agar lebih transparan.
Yang Busuk itu akan Berbau
Sejatinya apa pun di dunia ini, suatu saat kelak bakal terlihat gamblang. Sekali lagi ditegaskan, bahwa pada prinsipnya segala sesuatu itu akan terungkap tuntas tepat pada waktunya. Segala sesuatu yang busuk itu akan berbau juga.
“Nose te Ipsum“
(Kenalilah dirimu sendiri)
…
Kediri, 28 Februari 2025

