| Red-Joss.com | Hidup itu kabar baik. Bagaimana dengan kabar sahabat semua? Kabar baik apa yang dimiliki dan mau dibagikan?
Hidup baik itu terus bertumbuh. Makin baik dan kian bertambah baik lagi.
Jika ternyata hidup ini belum atau kurang baik, kita bertanya pada diri sendiri, dan merefleksikannya. Ada apa dengan kita dan di mana ketidakbaikannya itu?
Tidak mudah memang, juga bukan hal yang sepele untuk menelusuri realitas itu. Karena kriteria hidup baik tiap orang itu berbeda.
Orang hidup baik itu, apakah dinilai dari pikiran, ucapan, dan perilaku yang seia sekata. Bagaimana pula dengan nasib baik?
Sesungguhnya, hidup baik itu tidak egois dan untuk diri sendiri, tapi untuk dibagi-bagikan agar hidup itu menjadi kabar baik bagi sesama.
Hidup yang sungguh baik itu seia sekata dan untuk dibagi-bagikan. Jujur dan bersikap benar pada diri sendiri, begitu pula dengan sesama. Hidup yang bermakna.
Ketika ada orang berperilaku tidak baik, berbagi hal jelek, negatif, atau hoaks, ya, tidak seharusnya hal itu untuk diteruskan dan disebarkan kepada orang lain.
Cukup kita yang tahu, lalu dibuang. Atau hal buruk dan negatif itu kita refleksikan, diolah lagi agar menjadi masukan dan hal baik untuk dibagi-bagikan. Karena kita adalah kabar baik bagi sesama.
Bagaimana jika sebagai kabar baik, kita tidak ditanggapi dan diterima oleh orang lain?
Sesungguhnya, ketika memberi, kita melepas. Kita sekadar meneruskan rahmat Allah. Berbagi kebaikan, dan ikhlas hati.
Bertekun untuk berbagi kabar baik pada sesama itu makin bermakna, ketika sebelum melakukannya, kita bawa dalam doa agar Allah limpahi berkat. Kita melakukan semua itu dengan sukacita. Bahkan banyak orang akan bersukacita dengan kehadiran kita.
Kabar baik ini merupakan hakikat amanat Kristiani. Hidup untuk saling mengasihi.
…
Mas Redjo

