“Tidak ada gunanya miliki rumah nan mewah, jika dari dalam tidak pancarkan aura kasih.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | “Keteladanan tanpa kepedulian untuk mengingatkan itu ibarat membangun pencitraan dan omong kosong, Le,” kata Bijaksawan itu pada SP yang menunduk sedih. Wajah SP kuyu, dipenuhi oleh penyesalan.
Bagaimana SP tidak menyesal semenyesalnya. Semula ia beranggapan, jika dasar keimanan anak itu kuat, maka sulit untuk dipengaruhi teman pergaulan dan lingkungannya.
Ternyata anggapannya itu salah. Kesibukan untuk membangun usaha membuat ia kurang peduli dan abai dengan pertumbuhan kepribadian anak.
Ia kaget sekagetnya. Ketika anak-anaknya berubah jadi asing, dan tidak dikenali aslinya lagi. Apakah semua ini karena anaknya sudah menikah, lalu berubah?
“Tidak Le. Banyak orang sibuk dengan urusan atau usahanya, sehingga lupa dengan keluarga sendiri. Kita juga jangan mudah menyalahkan istri yang di rumah atau pun pada orang lain. Karena tanggung jawab anak itu pada kita, kedua orangtuanya.”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi, Le. Lebih bijak, kita mawas diri untuk berbenah dan diperbaiki diri. Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah.”
“Meskipun anak-anak telah mentas dan berkeluarga?”
“Ya. Kita tidak bisa mendikte dan mengatur mereka. Kita sebagai orangtua wajib mengingatkan dan berdoa ikhlas untuk mereka.”
“Anak itu berubah, mungkin silau kemudahan dan kenyamanan. Bisa juga dimanfaatkan pihak lain demi ambisi atau kepentingan golongan. Karena orangtuanya berkuasa, berpangkat, kaya, dan sebagainya. Tujuan mereka untuk memperoleh fasilitas kemudahan, keuntungan, dan kaya…”
“Le, kau harus bisa membedakan. Mengingatkan anak, karena peduli dan sayang itu berbeda dengan mencampuri urusan keluarga anak. Mereka itu dipercayakan Tuhan untuk kita pertanggungjawabkan.”
“Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan jadi baik. Keteladanan itu penting, asal seia-sekata antara ucapan dan tindakan.”
“Jangan bosan mengingatkan dan mendoakan anak, Le. Percayalah, Tuhan senantiasa memberi kita yang terbaik agar kita tidak lupa diri, tapi tendah hati. Semua yang kita punyai itu anugerah-Nya.”
SP diam direjam oleh penyesalan. Tapi nasihat Eyang Bijaksawan itu membuka pikiran dan hatinya jadi makin tenang.
Mengingatkan anak dan berdoa ikhlas. Karena rancangan kita yang menyangkut perkara-perkara di bawah itu berasal dari bumi. Tapi rancangan Tuhan menyangkut perkara-perkara yang di atas, seperti tingginya langit dari bumi (Yesaya 55: 8).
Tetaplah selalu bersyukur dan rendah hati.
…
Mas Redjo

