Fr. M. Christoforus, BHK
“Pendidikan adalah proses humanisasi: memanusiakan manusia sebagai subjek pendidikan dan bukan sebagai objek.”
(Paulo Freire)
…
Idealisme Paulo Freire
Jika saya mencoba untuk membandingkan dan menyandingkan gagasan brilian dari Paulo Freire, yang berintikan, bahwa pendidikan itu harus dipusatkan pada pengembangan pribadi siswa yang sadar kritis, berperikemanusiaan, dan bertujuan membebaskan diri dari penindasan. Maka praktik dunia edukasi di negeri kita ibarat merecoki pasien sakit jiwa dengan secangkir anggur merah.
Bahkan bagi Paulo Freire, esensi mendasar dari ranah edukasi ialah proses pembebasan dan bukan pembelengguan, yang kian mengasingkan manusia dari dirinya sendiri serta dari masyarakatnya.
Jeritan Sendu Suramnya Pendidikan Kita
Betapa terperanjat saya atas suara jeritan suramnya pendidikan di tanah air ini.
Tulisan berlatar belakang ranah jeritan edukasi ini, bertolak dari isi surat pembaca harian Kompas, Selasa, 30/7/2024 oleh Yes Sugimo, Melatiwangi, Cilengkrang, Bandung.
“Suramnya Pendidikan,” demikian judulnya.
Di dalamnya dituliskan, bahwa dunia pendidikan Indonesia dirundung masalah tak berkesudahan. Kompas TV memberitakan antara lain :
Inilah Sederetan Masalah
- Karena anaknya tak diterima di sekolah negeri pilihan, sejumlah orangtua mengunci pintu gerbang sekolah, sehingga menghambat proses belajar – mengajar.
- Di Ponorogo, Jatim, salah satu SD negeri tidak mendapat satu pun siswa baru.
- Di Grobogan, Jateng, Anak-anak belajar di ruang terbuka, karena gedung sekolahnya roboh.
- Selain status Guru ASN, Guru PPPK dan honorer juga nasibnya tidak menentu.
- Dinas Pendidikan Jakarta tepat awal tahun ajaran 2024/2025 memberhentikan ratusan guru honorer di sekolah negeri dengan berbagai alasan.
- Beberapa waktu lalu masyarakat resah, karena kenaikan UKT PTN dianggap tidak wajar.
- Runtuhnya kemuliaan PTN, karena mudahnya memberi gelar profesor kehormatan kepada pesohor atau pejabat, padahal untuk mendapatkan gelar profesor harus melalui proses panjang terkait aktivitas bidang akademi: mengajar, membimbing, penelitian, dan pengabdian masyarakat, publikasi asli karya ilmiah di jurnal bereputasi internasional dan seterusnya.
Selajutnya ditambahkan pula, bahwa bila iklim pendidikan seperti ini bukan pencerahan yang diperoleh, melainkan kegelapan masa depan, demikian Yes Sugimo.
Setelah membaca dengan saksama dan mencermati gagasan dasar tulisan ini, apa kesan, pandangan, serta refleksi kita?
Sebuah pertanyaan kritis retoris saya ajukan, mengapa masalah morat-matit dan pahit getirnya roh edukasi di negeri ini tak kunjung henti?
Ternyata, ratapan sendu, dambaan mengenaskan, dan cita-cita luhur dari edukator Paulo Freire lewat paham filsafat humanisme, hanyalah laksana sebuah ‘ekho alias gema’ dalam dunia edukasi, bukan?
…
Kediri, 31 Juli 2024

