Oleh : Jlitheng
| Red-Joss.com | Silahkan baca sampai akhir, agar sehati sejiwa dengan Bapa Suci: “Who am I to judge another, if I am capable of doing worse things?”
Pernahkah berinteraksi dengan seseorang yang cenderung memutarbalikkan fakta dan menyalahgunakan kuasa yang dimiliki untuk tujuan tidak jelas?
Jika pernah mengalami seperti itu, mungkin Anda sedang dalam jerat ‘gaslighting’.
‘Gaslighting’ adalah bentuk manipulasi emosional dari satu ke orang lain. Pelaku akan membuat korban jadi goyah, tidak pede, cemas.
Bohong sebagai dasarnya. Bahkan, ketika pihak lain sadar, bahwa dia bohong, dia tetap berusaha meyakinkan. Belakangan, orang yang terpengaruh jadi bingung, yang benar siapa?
Alasan yang paling umum adalah ingin berkuasa atas orang lain. Biasanya dilakukan oleh orang yang berkepribadian narsistik (merasa diri teramat penting). Selain itu karena ingin menjaga harga diri.
Seorang ‘gaslighter’ biasanya cerdas. Sayangnya, karunia yang tujuannya demi kebaikan bersama dimanipulasi untuk tujuan yang menyimpang.
Contoh: ketika A, seorang direktur, yang punya kuasa diketahui anak buahnya ada ‘affair’. Dengan kuasa yang dimiliki, ia singkirkan anak buahnya. Untuk mengamankan posisi dan nama baiknya. Nanti dia akan membuat narasi, bahwa ada kelompok tertentu yang menjebaknya. Jahat ya! (Bandingkan kasus Yohanes Pembaptis: dipenggal kepalanya oleh Herodes demi reputasi dirinya).
‘Gaslighter’ ada di mana saja, di keluarga: suami ke istri, istri ke suami, orangtua ke anak, bahkan di antara calon pasangan, dalam dunia politik, dan bisa terjadi juga dalam paguyuban iman, antar pamong ke umat atau antar umat dengan umat.
Seingat saya pada tahun 2016 saya pernah menyelesaikan kasus ‘gaslighting’. Saya diundang Romo menyelesaikan kasus calon pasutri usai kanonik. ‘Core issue’: ada manipulasi terhadap salah satu calon untuk keuntungan diri. Sangat berbahaya, jika dilanjutkan. Pasti ada yang jadi korban. “I don’t judge but showing consequences only.” Mereka harus batal agar terbebas dari potensi manipulasi selama hidup berkeluarga.
‘Gaslighter’ takut dengan orang yang berwawasan baik, bernalar sehat, berhati jujur, berbicara dengan fakta, & data yang valid.
Dunia kita tidak baik-baik saja. Terus berubah tanpa dapat kita cegah. Maka kita perlu membantu umat, terutama gereja muda kita, dengan pengetahuan yang benar. Katekese yang lebih kreatif dan Pembekalan Keluarga (MRT) yang lebih ‘inspiring & up to date’. Kita membantu juga pendidikan para calon imam dengan doa dan dengan ‘correctio fraterna’, demi meretas jalan sehat menuju Gereja yang baru, dan luput dari ‘gaslighters’ baru pula.
Tetap teguh menjadi “Pencinta Tuhan dengan cara yang benar.”
Jlitheng

