Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Warisan apa yang Anda tinggalkan, kekekalan ataukah kefanaan?”
(Didaktika Hidup Sejati)
Sesaat Bercermin Diri
‘Nosce te Ipsum’
Tampak seorang Ibu paruh baya sedang asyik menatap diri (wajahnya), lewat sekeping cermin nan bening. Sesekali ia mendekatkan cermin itu ke wajahnya dan sesekali pula ia jauhkan. Lalu dalam hening, terucap sepenggal kalimat dari bibirnya, “Oh sang waktu, ternyata sudah sekian lama aku ada bersamamu. Tapi, apa katamu tentang aku?”
(‘Nose te Ipsum!’)
Selamat Tinggal sang Waktu
Waktu adalah sebuah keabadian. Ia setia datang dan pergi. Kita manusia setia berada di dalam relungannya. Secara kronologis, kita hidup dan terikat padanya. Karena manusia memang sangat terikat pada waktu dan tempat.
Kini, kita akan segera meninggalkan sejumput rentangan waktu (365) hari di sepanjang tahun 2025 ini. Sebuah pertanyaan yang kita ajukan, “Jejak-jejak apakah yang telah kita tinggalkan?”
Jejak Apa yang Ditinggalkan?
Jejak yang ditinggalkan adalah sebuah dampak atau warisan di balik punggung waktu silam kita. Ia ibarat sebuah rangsel di punggung yang berisi aneka kisah yang segera akan kita tinggalkan… itulah jejak yang ditinggalkan.
Jejak-jejak Apa saja yang Ditinggalkan?
- Sebuah memori, berupa ingatan yang sulit untuk dilupakan. Kenangan akan kepahitan dan kemanisan madu hidup kita.
- Sebuah Aktus (aksi) nyata berupa tindakan konkret, entah buruk atau baik. Terpuji atau tercela. Mengagumkan atau yang sungguh memalukan. Tapi, semuanya itu sudah berlalu.
- Sebuah didaktika atau pelajaran hidup, berupa pengalaman atau pengetahuan yang sempat kita bagikan kepada sesama. Bukankah manusia adalah guru kehidupan bagi sesamanya?
- Cinta (Amor), berupa rasa kasih sayang (simpati dan empati), dan aneka perhatian yang telah dicurahkan kepada sesama.
Sebuah Refleksi Diri
Sebagai sebuah refleksi nan jujur dan tulus, “Jejak-jejak apakah yang telah saya tinggalkan sebagai sebuah warisan?” Ibaratnya, tatkala Anda melintas di bentangan pasir pantai, maka jejak-jejak langkah kaki Anda pun akan segera terukir di atas bentangan pasir. Itulah realitas jejak yang sempat Anda tinggalkan, bukan?
Manusia, secara insting adalah makhluk yang senantiasa ingin berbuat kebaikan. Karena bukanlah ia datang dari Sumber segala Kebaikan? Namun, aneka godaan hidup itu kadang datang dan menganfaskannya tanpa ampun. Karena bukankah manusia juga sebagai makhluk yang lemah? (Erare humanum est), kata orang Latin.
Refleksi
- Kehendak baik manusia, sering kali kalah oleh bujuk rayu berupa godaan hidup.
- Mata, pikiran, dan hati manusia itu tidak selalu kuat bertahan untuk melawan godaan.
- Manusia membutuhkan ‘senjata iman’, yang akan mampu menghalau aneka godaan hidup ini.
“Jejak-jejak yang manusia tinggalkan itu” dapat menjadi sumber inspirasi atau motivasi yang secara filosofi akan sanggup mengingatkan manusia tentang konsep ‘keabadian’.
“Dum Vita est, Spes est”
(Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan).
Kediri, 23 Desember 2025

