1.
Wahai…
Matamu angkasa sorotlah ragaku
agar aku bisa berkaca pada debu tanah
Aku sudah sujud mencium debu
Aku telah rebah memeluk tanah
Tetapi…
mataku tak bisa melihat wajahku
2.
Wahai…
Senyummu purnama dan gemintang
Sibakkah sayap gulita yang hening
Datanglah belai tubuhku miskin sepi
agar bisa bercermin pada wajah bumi
Aku telah menyusuri gelap malam galau
untuk mencari sosok wajahku
tetapi tanyaku hanya bertemu diam beku
3.
Wahai…
telaga, kolam, sungai dan muara
Ubahlah telapak jemarimu jadi kaca
antar diriku melihat dan bisa bertemu
apa dan siapakah sosok pribadiku
Entah siang diterangi mentari bercahaya
Entah malam hening disinari bintang dan purnama
Karena mataku buta tak mampu melihat sosok diriku
4.
Wahai…
Debu tanah tumpah darahku
Engkau yang siang malam menggendong jiwa ragaku
Engkau yang melahirkan dan menyusui ragaku
Engkau yang memberi makan jiwaku
Engkau yang empunya ruang dan waktu
Berikan cermin untuk rindu dambaku
Ajari aku berkaca pada desah nafasku
5.
Wahai…
jemari dan telapak kakiku
bicaralah dan jangan diam membisu
Katakan pada kedua bola mataku
bagaimana caranya melihat wajahku
Ajarkan kepada otak pikiranku
untuk tahu dan menyadari siapa pribadiku
Ingatkan selalu nurani jiwaku
bahwa aku tak mampu berlari dari debu

