1.
Bicaralah…
Selama masih engkau punya mulutmu
Selagi masih ada emosi rasamu
Ketika masih sehat waras pikiranmu
Jika memang ada hati nuranimu
Karena sungguh ada sanubari jiwamu
Katakan berani seribu katamu
Lantangkan tegas sejuta kalimatmu
Nyatakan apa dan siapa pribadimu
Gaungkan sosok sejati harkat martabatmu
“Katakan benar itu benar…
Lantangkan salah itu salah…
Hentakkan kaki di dada bumi
Arahkan wajahmu menatap mentari
Jangan diam
Jangan bisu
Jangan takut!
2.
Diam…
Jangan coba buka mulutmu
Jangan gerakan lidah dan bibirmu
Jika tak aman sehat ragamu
Jika tak menentu emosi rasamu
Jika galau dan gulita pikiranmu
Jika bimbang mencekik hati nuranimu
Jika pekat kelam melumat jiwamu
Sebab
engkau tak tahu apa yang kau katakan
engkau tak paham bicara kepada siapa
engkau tak mengerti mengapa dan untuk apa berkata
Jaga bibir dan lidahmu
Jaga mulut dan suaramu
Agar bermakna hakikat jiwa ragamu
di tengah sekalian sesama saudaramu
3.
Engkau punya mulut untuk berkata
Tetapi engkau harus tahu
apa yang hendak kau katakan
kepada siapa engkau bicara
kapan waktunya untuk berkata
Bagaimana caranya mengatakan
Mengapa harus lantang bersuara
Ada waktu untuk lidah berucap
Ada saat mulut harus berkata
Ada waktu untuk diam tanpa kata
Ada saat berhenti tanpa suara
Karena bicara atau diam
harus punya makna yang dalam
tentang apa dan siapa engkau
tentang untuk siapa kata-katamu
tentang untuk apa dan mengapa suaramu
4.
Ada saat istimewa
kita bicara tanpa suara
kita diam tetapi berkata-kata
Raga dan rasa melebur tanpa tanda
Pikiran bisa bergerak tanpa suara
berkelana melintas ruang dan waktu
Hati nurani bisa tajam berbicara
menembus sekat tembok baja
Ada pekik jeritan sanubari jiwa
bisa menembus debu tanah
mampu menyibak langit angkasa
Mantra doa sahaja
adalah diam tetapi berbicara
adalah berkata lantang tanpa suara
Karena menyatu dengan suara semesta
bersujud menyapa Sang Pencipta

