1.
Wahai kalian sesama saudaraku
Lihatlah…
Aku acungkan jempolku memujimu
Empat jari kudekap erat di telapakku
Jari jempol kuarahkan padamu
Entah di mana tanganku yang satu
Entah mengapa aku memujimu
Hanya aku yang pasti tahu
2.
Wahai sesama saudaraku
Ini jempolku berikan pengakuan padamu
Bahwa ketika aku coba memujimu
sejatinya hanya tegaskan kepentinganku
Empat jariku mengarah padaku
Jempol pujian juga milikku
Sehingga
aku hanya menagih pujian darimu
aku cuma meminta lagi padamu
3.
Wahai sesama saudaraku
dengarkan pengakuan makna jempolku
dalam perjalananku berjumpa denganmu
Bahwa zaman telah mengajari aku
bagaimana harus pandai memanfatkan dirimu
Bahwa segala cara aku memujimu
dengan jempol dan kata-kataku
Bahwa sering dengan menyalami dirimu
bahkan bisa aku memelukmu
Semuanya hanya demi mendapatkan kepentinganku
4.
Wahai sesama saudaraku
Inilah sandiwara yang biasa terjadi
dalam perjumpaan kita sehari-hari
Bahwa engkau sering terlena dibius pujianku
Inilah arti sesungguhnya jempol pujianku
Bahwa simbol jari jempolku padamu
dan empat jari terarah padaku
hanyalah cara merayu dan mengelabui dirimu
Ada aneka topeng dalam diriku
5.
Wahai sesama saudaraku
Inilah pengakuan arti jempol pujianku
Bahwa maksud sesungguhnya pujian kepadamu
Sejatinya hanya demi kebutuhan diriku
“Dalamnya laut bisa diduga
tetapi dalam hati sering berbeda
bahkan hampa dan hanya pura-pura”
Dunia ini memang panggung sandiwara
6.
Wahai sesama saudaraku
Kejujuran kini semakin mahal
hampir sirna di zaman digital
Apalagi dengan aneka sosial media
semua emosi gemerlap tersedia
untuk bisa jadi topeng pura-pura
Pujian sering penuh racun berbisa
Aneka wajah dan indahnya kata
belum tentu sama dalam jiwa raga
7.
Wahai sesama saudaraku
Inilah pengakuan jempol pujianku
setelah rasa tak nyaman karena sudah kena batu
Aku sudah terkena karmanya
Semua biasa diatur dengan kata dan angka
agar bisa meraih rindu damba
Bahkan adat budaya dan agama hampir tanpa makna
kini datang menggugat dan mendera

