1.
Aku berdiri di depanmu kematian
ada rasa sedih duka lara
karena jasad yang terbaring masih kudamba
Aku tergetar dirangkul ajal
karena menyadari hidupku juga tidak kekal
Aku bertanya di depanmu kematian
apa dan siapakah engkau yang menakutkan
Aku saksikan aneka ekspresi di depan jenazah
Aku dengarkan beragam pidato saat penguburan
Air mata duka lara memeluk jiwa raga
Mengapa kami tak mampu membatalkan engkau kematian
Apakah engkau adalah tanya dan jawaban
“Hari ini dia, besok pasti aku”
2.
Aku pasti mati
Engkau dan dia juga akan mati
Mereka juga tak luput dari mati
Kami semua…
Apakah kami ini putra-putrimu kematian
Adakah kami generasi pewarismu kematian
Mengapa engkau kematian menemani jejak langkah nafas kehidupan
Ada aneka tanya di hadapanmu kematian
Beragam jawaban dan cara menghadapi engkau kematian
“Bisakah kami menerima kehidupan tanpa engkau kematian?”
3.
Wahai kematian
Engkau selalu menemani setiap desah nafas kami
Engkau selalu mengikuti aliran desir darah kami
Engkau yang memulai dan mengakhiri ada kami
dari tiada jadi ada dan hidup
dari hidup kembali pada tiada
Engkau datang tanpa kami minta
Engkau akhiri ada kami tanpa tanya
dengan waktu dan cara yang berbeda
Jawablah rindu damba kami
Apakah engkau harus ditakuti
Ataukah engkaulah sumber energi sejati
bagi setiap sosok pribadi kami
Wahai kematian…
ajarlah kami menerima dan mencintai engkau
Seperti kami terima dan cintai hidup ini
4.
Wahai Sang ajal
sejarah wariskan pengetahuan akal
bahwa ada kehidupan kekal
bahwa ada kelanjutan hidup di alam baka
bahwa ada roh jiwa alami Surga
bahwa ada siksa abadi di Neraka
Dan
banyak kisah cerita yang ada
Entah dari tradisi adat budaya
Entah menurut ajaran agama
Sehingga ada beragam ritual doa
di hadapan jenazah sesama saudara
Wahai Sang kematian…
dalam tanya dan rindu damba
adakah jawaban bagi jiwa raga
yang sering takut gentar menghadapi fakta
Bahwa ajalku pasti tiba
dan jiwaku pasti berpisah dari raga
Apa yang harus kami lakukan padamu
agar siap dan damai saat dijemput oleh engkau?

