Wahai, anak-Ku dan manusia ciptaan-Ku
Tak pernah berkesudahan kasih-Ku bagimu
karena Aku Maha Pengasih
Tak pernah habis cinta-Ku kepadamu
karena Aku Maha Cinta
Namun,
pikiranmu tak pernah mampu memahami semuanya
Karena Aku Maha Misteri tak terselami
Karena Aku Maha Kaya dan Maha Sempurna
Sedangkan
misteri pribadimu saja tak mampu engkau sadari
Misteri sesama saudaramu tak akan tuntas dipahami
Misteri alam semesta tak mungkin habis diselami
Belajarlah rendah hati dan bersyukur
Pikirkanlah apa yang penting saja
demi kedamaian kehidupanmu
Anak-Ku yang baik
dengarlah dan camkanlah dalam heningmu
Sadarlah akan keterbatasan pikiranmu
Tentang pengalaman lara, derita, dan kematian
dalam kehidupan semua manusia
Itu adalah bagian dari keterbatasan kodratmu sebagai ciptaan di dunia
Memang engkau peduli untuk mengerti akan pengalaman dirimu
juga solider dengan penderitaan sesamamu
Tetapi…
bahasamu untuk mengatakan pengalaman lara derita terbatas
Ukuran lara derita pun terbatas sesuai pengetahuan dan tradisi kalian manusia
Apakah cukup untuk menggugat hakikat kehidupan pribadimu
Adakah hal yang masih bisa disyukuri dalam kehidupanmu
Apa cara dan alat yang engkau pakai untuk mengadili pengalaman kehidupanmu?
Anak-Ku yang terkasih…
Tentang bahasa manusia akan pengalaman lara derita dan masalah
hanyalah tebaran sampah di dalam pikiranmu
Hanyalah limbah kotoran yang diwariskan oleh generasi pendahulumu
Hanyalah serpihan debu di pelataran alam semesta
Jika engkau kenal hakikat dirimu
mau melihat kekayaan harkat martabat dirimu
Dan berusaha menyadari seluruh sistem dan anggota tubuhmu
Pasti engkau paham dan kagum
serta menemukan begitu banyak alasan bersyukur
Lalu mampu melihat pengalaman hidupmu dengan bijaksana
Bahkan tidak bisa melihat luka, lara, derita, dan masalah
Engkau pasti akan menyadari kehadiran-Ku
dan sujud bersyukur atas kasih sayang-Ku
Berkat-Ku senantiasa menyertai-mu

