1.
12 Desember 1992
Gempa dan tsunani dasyat menerjang pulau Flores
Beribu korban nyawa direnggut
apalagi kehilangan harta benda
Tak terbayangkan bencana itu
Tak ada yang meminta datangnya
Tak satu pun korban senyum menyambutnya
Sudah 33 tahun jadi memori hitam
Aneka reaksi menyibak tabir misteri
Masing-masing mencari makna bagi diri
Mereka yang hilang nyawa pergi
Yang hidup pun mencari hikmah pribadi
Mengapa bencana ini terjadi
2.
Banjir dasyat melanda Sumatera
Air lumpur ganas menerjang pemukiman
Pohon berlogo menghujam nyawa dan harta
Jiwa melayang harta hilang
lebih dari seribu saudara pulang
Jutaan pribadi bergulat menyelamatkan nafas
melerai aneka kata kalimat pembelaan
Menahan lapar haus dan ancaman penyakit
entah nanti selamat atau menyusul jadi korban
Banyak tempat terjadi baniir bandang
Ada lagi yang longsor atau sungai meluap
Gelombang pasang lautan datang menghadang
Tak ada yang siap dan senang jadi korban
Alam datangkan bencana dasyat
tetapi banyak pribadi yang bersilet
Tajam membela diri dan pedas mempersalahkan sesama
Bahkan semesta dan Sang Pencipta digugat
mengapa datangkan bencana dasyat
3.
Tak ada yang mengatur Merapi mengamuk
tumpahkan api dan lahar membara
Tak ada yang memerintah Semeru berontak
Banjir abu dan lahar menerjang
merusak pemukiman dan mengancam nyawa
Bisakah menjawab misteri alam raya
Adakah hikmah bagi kehiduoan kita
Tak ada yang mampu kendalikan
Lewotobi erupsi yang menghancurkan kampung dan harta
menelan korban jiwa dan lahirkan pengungsi
Entah sampai kapan akan berhenti
Mengapa lara derita diciptakan bencana alam
Ke mana segala ritual sakral adat budaya
Di mana segala kecanggihan teknologi
Apakah Sang Ilahi tidak mendengarkan doa manusia?
4.
Orang kecil sederhana sering jadi korban
daraskan rintihan lara derita
harapkan kasih sayang dari sesama
karena tak mampu ucapkan doa
di tengah lara nestapa tak berdaya
dalam sejuta tanya yang mencekam
Para bijak pandai gaungkan argumentasi
sesuai profesi dan kehebatan halarnya
Para pejabat lakukan kebijakan sesuai jabatan dan kepentingan
Entahkah para tokoh agama menggalang solidaritas
sebagai buah amal dari rangkaian ibadah
Entahkah para politisi dan pebisnis akan datangkan solusi
seperti kata sakti politik dalam sumpah janji
dan wujud kepedulian sosial ekonomi
Dan
Pada hakikatnya kita manusia
tidak ada yang bisa bersembunyi dari wajah siang dan malam
dari catatan udara yang dihirup nafas
dari rekaman telapak yang menginjak debu tanah

