Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kekuasaan tanpa hikmat adalah seperti kapak berat tanpa tepi yang tajam, lebih cocok untuk merusak daripada memperbaiki.”
(Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Semua Orang)
…
Apa itu Pribadi Berhikmat?
Ialah sosok pribadi yang memiliki kemampuan dalam ‘menilai’ sesuatu, orang, barang, kejadian, dan suatu situasi.
Saya ingin menyebutnya sebagai suatu kebijaksanaan atau hikmah alias (wisdom).
Ciri-ciri Pribadi Berhikmat
Di dalam kehidupan riil, orang pun mampu memberikan ‘sejumlah ciri-ciri’ kepada sosok pribadi yang dianggap berhikmat itu.
Antara lain, sebagai sosok pribadi pembawa damai, peramah, penurut, memiliki sifat berbelas kasih, tidak memihak, dan tidak bersikap munafik (Yakobus 3 : 17).
Tulisan “Jejak-jejak Pribadi Berhikmat,” ini saya kembangkan berdasarkan kenangan atau kesan dari seorang siswa (Irving Bluesten), yang telah berusia 78 tahun dari California, USA.
Bagaimana dia mengenang jasa, keunikan, dan kebaikan para Gurunya di masa pendidikannya?
Ternyata, kebaikan dan keunikan itu sangat melekat serta membekas di dalam sanubarinya, hingga dia mencapai usia lanjut.
Baginya, itulah tindakan berhikmat atau suatu kebijaksaan yang sanggup meninggalkan jejaknya di atas bumi ini.
Ternyata sejumlah Gurunya itu sanggup meninggalkan kesan dan kenangan berhikmat baginya.
- Ibu Guru Candy, sering berkata, bahwa “Sebuah kereta kosong bunyinya paling bising.”
Hikmat yang ditinggalkan, bahwa pribadi yang banyak bicara itu seringkali tidak mempunyai apa-apa untuk dikatakan.
- Pak Guru Spangler, sosok yang sangat adil dan tidak mengizinkan para muridnya untuk berbuat curang untuk mendapat nilai yang bagus.
- Pak Guru Lester, Guru Bahasa Inggris, sebagai pribadi yang memiliki sikap humor yang bermakna dalam bagi kehidupan.
Bagi murid (Irving Blestein), para Gurunya ini adalah bagai para pendekar berhikmat yang sanggup meninggalkan jejak-jejak kemuliaan dan kebaikan di dalam sanubarinya.
Baginya, rasa hormat orang lain tak pernah dapat didiktekan, diperintahkan, dituntut, atau diharuskan.
Itu tidak boleh dianggap remeh. Rasa hormat dari orang lain hanya dapat diperoleh melalui ekspresi kasih, kejujuran, dan nilai-nilai moral yang tinggi.
(Kisah Rohani Pembangkit Semangat).
Apa dan bagaimanakah, kesan serta tanggapan kita terhadap kesan serta pengalaman murid yang telah berusia 78 tahun ini, atas cara para Guru itu mendidiknya, yang ternyata sanggup meninggalkan jejak-jejak berhikmat?
Apa Kesan para murid di n egeri ini?
Di antara para pembaca tulisan ini, apa saja, jejak-jejak berhikmat yang sudah Anda peroleh dari Guru Anda di negeri ini?
…
Kediri, 30 Juli 2024

