“Mengingatkan itu hukumnya wajib. Tapi tidak identik kita memaksakan kehendak agar orang lain mengikuti keinginan kita.” -Mas Redjo
…
Carut marut kebijakan yang tidak terkoordinasi itu membuat banyak orang jadi gamang dan bingung. Lalu timbul kegaduhan dan viral. Apakah ini untuk mengalihkan isu?
Saya malas berkomentar, karena percuma dan tidak ada gunanya. Ketika terbawa emosi, kita sakit hati sendiri.
Jikapun hendak usul itu ke mana? Kita tidak di lingkungan mereka. Aspirasi kita tidak dipedulikan. Jika didengar itu pun dijamin macet. Karena para wakil kita di parlemen itu disibuki dengan kepentingan partai, kroni, dan mereka mencari amannya.
Saya usul menyampaikan pendapat dan mengingatkan itu lewat tulisan di sosmed. Saya tidak mau menilai, apalagi menghakimi, tapi sekadar menghimbau dengan amat sangat pada tuan-tuan yang terhormat agar memperhatikan suara kami yang telah memilih mereka.
Alangkah bijaknya bijak, jika para pemangku kebijakan itu sebelum memberlakukan aturan itu dikaji seksama dan disosialisasikan lebih dulu agar kita tidak terkaget-kaget, termehek-mehek, dan kebingungan.
Melihat pengalaman dari tetangga sebelah rumah, apakah orangtua yang keukeh bersikap otoriter dan memaksakan kehendak pada anak-anaknya, hingga rumah tangga jadi berantakan dan tercerai berai? Anak yang membandel itu tidak diakui sebagai darah dagingnya lagi?
Saya memejamkan mata, dan segera memeluk anak-anak saya yang masih kecil itu. Pengalaman dari orangtua tetangga sebelah rumah yang ditinggal pergi oleh anak-anaknya itu hidup menderita dan sengsara di masa tuanya.
“Gusti nyuwun kawelasan. Jauhkan kami semua dari yang jahat.”
Mata saya berkaca-kaca.
…
Mas Redjo

