Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ingatan kolektif bukan sekadar sejarah, melainkan ingatan yang menagih agar kejahatan masa lalu diselesaikan secara adil.”
(Ricoeur)
Jangan Melupakan Sejarah
‘Jasmerah’ adalah akronim dari ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah, demikian sang Proklamator, Presiden Pertama RI Soekarno.
Riuhnya suara murni yang mengalir dari hati para anak bangsa yang jujur dan manusiawi, tatkala ada selentingan, bahwa Soeharto akan digelari pahlawan nasional. Tidak sedikit para tokoh bangsa yang terang-terangan menolak pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto.
Jangan Nodai Ingatan Bangsa
Dalam pemberitaan KOMPAS (5/11/2025), Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan mengungkapkan, bahwa Soeharto memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional. Pertanyaannya adalah syarat yang semacam apa? Kritik publik terhadap langkah pemerintah untuk mengangkat Soeharto jadi pahlawan nasional sepatutnya ditanggapi dengan serius. Publik ingin tahu syarat atau kriteria semacam apa yang dipenuhi Soeharto sebagai pahlawan nasional?
Bagaimana mungkin Soeharto yang kerap diidentikan dengan pelanggaran HAM semasa pemerintahannya diangkat jadi pahlawan nasional bersama dengan Marsinah yang tewas, karena memperjuangkan hak buruh di bawah pemerintahan Soeharto sendiri? Ini jadi sebuah ironi. Demikian Adrianus Raditya Indriyanto, dalam surat kepada Redaksi, Kompas, Senin, (10/11/2025), berjudul “Jangan Melupakan Sejarah.”
Milan Kundera, demikian Adrianus Raditya dalam bukunya, The Books of Laughter and Forgetting, menuliskan, “Perjuangan manusia melawan kekuasaan sesungguhnya adalah perjuangan ingatan melawan pelupaan.”
Oleh karena itu, pemerintah janganlah sekali-kali mau bermain kuasa dengan menghapus ingatan akan kepahitan sejarah dari dalam hati rakyat. Untuk itu, sekali lagi mohon janganlah kita mau melupakan sejarah.
Ingatan dan pahitnya kenangan serta penderitaan rakyat selama 32 tahun Soeharto berkuasa, sungguh tidak dapat dilupakan begitu saja.
Sebuah pertanyaan kritis pun diajukan, “Jika Soeharto memang dianggap layak sebagai pahlawan nasional, mengapa ia justru tumbang lewat aksi demo para mahasiswa?”
Bukankah beliau justru sebagai pelanggar HAM berat, pembunuh dab penindas rakyat? Sungguh ironis, Marsinah yang mati sebagai berjuang para buruh di bawah pemerintahan Soeharto, kok diangkat sebagai pahlawan. Bukahkah ini sebagai sebuah dagelan konyol, sekadar menghibur hati rakyat?
Sungguh, betapa konyolnya sikap dan tindakan pemerintah di negeri ini. Karena bagaimana mungkin, pemerintah berani untuk mengangkat seseorang yang jelas-jelas sebagai pelanggar HAM berat dan dijadikan sebagai pahlawan?
Bukankah gema reformasi di negeri ini masih teringiang-ngiang di dalam sanubari kita? Bukankah pula lahirnya zaman reformasi (21 Mei 1998), sebagai antithesis alias perlawanan terhadap rezim keledai bebal pimpinan Soeharto? Bukankah sejak saat itu, berakhirlah era Orde Baru dan beralih ke era Reformasi?
Refleksi
- Jangan-jangan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sebagai isyarat, bahwa inilah ‘buah busuk’ dari Reformasi bangsa kita?
- Jika memang demikian, apakah itu berati, bahwa bangsa ini pernah benar-benar telah mereformasi dirinya?
- Bukankah kualitas dari sebatang pohon itu justru dilihat dari buahnya?
Kediri, 11 November 2025

