“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak” (Matius 5: 37).
…
| Red-Joss.com | Kita banyak janji ini dan janji itu. Berjanji kepada sahabat atau yang lain. Selama ini, banyak janji yang ditepati atau diingkari?Janji benar atau palsu?
Banyak di antara kita, jika tidak bisa menepati janji mengatakan, “maaf ya.” Tapi ada juga yang ngeloyor pergi tanpa merasa berjanji atau bersalah. Padahal, janji adalah hutang. Mengapa? Karena orang yang berjanji itu memenjarakan diri.
Contohnya, janji bertemu dengan teman. Catat hari, tanggal, dan jam janjian itu dalam agenda agar kita tidak lupa. Juga agar kita tidak membuat janji dengan yang lain pada hari, tanggal, dan jam sama. Supaya tidak bentrok.
Jika teman tidak jadi datang atau berhalangan, hendaknya diingatkan atau janjinya ditagih. Tujuannya agar teman paham, bahwa janji itu hutang yang harus ditepati, dan sangat berharga.
Sesungguhnya ada nilai yang lebih dari sebuah janji, yaitu komitmen, konsistensi, penghargaan, dan kepercayaan.
Saya dan kamu berjanji, karena kita mau membulatkan tekad dan mewujudkan mimpi-mimpi. Misalnya, dalam janji imamat dan janji perkawinan.
Saya dan kamu berjanji, karena kita mau menjalani hidup dengan arahan hidup yang jelas. Misalnya, kita tahu tanggung-jawab masing-masing.
Saya dan kamu berjanji, karena kita bisa terus belajar untuk menghargai orang lain. Misalnya, menempatkan setiap pribadi pada posisi yang penting. Tidak hanya melihat posisi dan statusnya. Bahkan pada yang miskin pun, saat diri kita berjanji itu harus ditepati.
Saya dan kamu berjanji, karena kita bisa membangun sebuah kepercayaan. Misalnya, makin sering menepati janji, maka kualitas hidup kita juga diperhitungkan dan kita kian dipercaya oleh banyak orang.
Sekarang diingat lagi, kepada siapa kita sedang berjanji, sudahkah ditepati? Atau (maaf) kita termasuk orang yang suka obral janji?
Hati-hati! Orang yang suka obral janji itu pasti tidak dipercaya lagi, karena hanya janji kosong.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

