Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Janjimu tak seindah pembuktianmu”
(Amanat Hidup Setia)
…
| Red-Joss.com | Sudah bukan rahasia lagi, bahwa orang-orang yang bermulut manis, biasanya sangat suka mengobral kepalsuan hidup lewat janji-janji manis pula.
Mungkin ada di antara kita yang masih sangat ingat dengan sepenggal teks dari sebuah lagu:
“Janji-janji, tinggal janji, bulan madu hanyalah mimpi”
Bukankah makna dan amanat dari lagu itu mau mengekspresikan rasa kekecewaan serta sakit hati, karena janji yang tidak disetiai?
Ternyata, janji-janji yang dibuat atau bahkan diikrarkan bersama antara dua orang atau pun dengan sebuah institusi, tidak sedikit yang ternyata berakhir dengan kekecewaan dan sakit hati.
Maka, orang-orang pun akan menyebutnya janji manis atau palsu.
Sadarkah kita sebagai sesama manusia, bahwa jika ternyata janji yang telah kita ikatkan atau ikrarkan itu ternyata tidak disetiai alias tidak terbukti. Justru akan berdampak pada kekecewaan, pahit, dan sakit hati.
Itulah yang disebut ingkar janji. Karena kesepakatan dari isi sebuah perjanjian atau sebuah ikrar yang kelak tidak dapat dibuktikan.
Di dalam hidup dan kehidupan riil ini, sangat sering orang-orang merasa telah dibohongi atau pun diingkari, oleh pihak lain justru, karena banyak janji yang tidak ditepati.
Maka, mari kita belajar untuk hidup dengan kejujuran dan sadar diri, agar kita tidak mudah membuat atau mengikat suatu janji dengan sesama kita.
Karena pada hakikatnya, bukankah sebuah janji itu adalah hutang yang harus dilunasi?
…
Kediri,ย 30ย Januariย 2024
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

