Kalimat tema ini diambil dari doa ‘Damai’ yang selalu kita serukan sebelum Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi. Ada kaitan erat penghapusan atau pengampunan dosa dengan damai. Orang yang terhindar dari perbuatan-perbuatan dosa, bisa dipastikan ia mengalami hidup yang damai, tenang, dan nyaman. Dalam kenyataannya, hal itu tidak mudah untuk selalu menghindari dosa, terutama kalau dosa-dosa itu disebabkan dari dalam diri sendiri, seperti dari pikiran, hati, dan mulut kita.
Kita sering mengulang-ulang kesalahan yang sama. Jika hal ini didukung dengan tidak atau jarang sekali ada penyesalan dan penerimaan Sakramen Tobat, seseorang itu bisa saja merasa nyaman hidup di dalam dosa. Akibatnya dosa makin menumpuk dan yang bersangkutan tidak menyadari lagi sebagai pendosa, meski ia secara nyata berbuat dosa. Oleh karena itu doa “Janganlah perhitungkan dosa kami” adalah ungkapan permohonan kita yang tiada hentinya selama kita di dunia ini. Jika Tuhan memang memperhitungkan dosa-dosa kita, bisa jadi kita sangat rendah seperti debu tanah yang diinjak-injak saja.
Sebaliknya dengan memohon Tuhan supaya memperhatikan iman setiap orang dan kawanan umat-Nya. Kita orang berdosa yang memiliki iman, bahkan mungkin iman yang sangat kuat. Hal ini diperlihatkan dalam tindakan pengakuan sebagai orang-orang yang berbuat dosa dan salah, seperti yang diwartakan kitab Daniel. Yesus Kristus hanya satu kali saja memperhitungkan dosa-dosa kita dengan pengorbanan diri-Nya. Yang lebih diusahakan sekarang ialah pengakuan diri dan jadi baru di hadapan Tuhan dan sesama kita.
Iman kita tidak langsung atau otomatis menghapus dosa-dosa itu. Selain pengakuan dosa yang mencirikan iman, kita diajarkan Yesus untuk memperkuat iman itu dengan kebajikan-kebajikan agar membentengi kita dari dosa dan kejahatan.
Kita diajarkan kemurahan hati seperti Bapa di Surga yang murah hati. Salah satu ciri utama pribadi yang murah hati ialah jadi yang pertama berbuat baik, entah melalui perkataan atau perbuatan. Berbalas kebaikan itu sebenarnya bukan kemurahan hati, tapi berkeadilan.
Dengan kualitas kemurahan hati ini, kita memang tidak menghakimi, menghukum, atau memfitnah lebih dahulu. Kemurahan hati menuntun kita untuk lebih dulu mengampuni, pertama yang memberi, mengambil langkah pertama untuk berlaku benar dan baik. Semua ini bukan untuk mencari muka atau pencitraan, melainkan karena cinta kasih itu sangat menuntut demikian. Sekaligus dapat mencegah kita untuk menambah dan berbuat dosa.
“Allah Bapa yang di Surga jangan memperhitungkan dosa-dosa kami, tapi perhatikanlah iman kami dan besarkanlah cinta kasih di dalam hati kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

