“Ketika kita membuka aib orang, sebenarnya kita sedang menelanjangi diri sendiri.” – Mas Redjo
…
“Mengapa kau tidak cerita padaku, kalau A itu seorang penipu?”
“Maksudmu?” saya mengernyitkan kening.
Bla-bla-bla. Bagai badai Tornado, mulut B menerocos menceritakan segala keburukan A yang menjual penderitaan orang lain untuk menipu.
“Maaf, jika saya dianggap bersalah. Tapi jujur, saya tidak merasa ditipu oleh A,” kata saya tenang, sambil tersenyum. “Karena A bercerita dan minta tolong, saya memberi. Jika A ternyata tujuannya untuk menipu, hal itu bukan urusan saya.”
B menatap saya dengan tajam seperti memprotes, “Mengapa kau tidak mengingatkan teman yang lain, karena kau dekat dengan A!”
“Sekali lagi, maaf, jika saya tidak cerita tentang kelakuan A, karena saya tidak mau berprasangka buruk pada siapa pun. Saya juga tidak punya hak menghakimi. Meski ada teman bercerita tentang kelakuan A, apa saya harus menyebarkan ke orang lain? Apa untungnya?”
Mengapa kita senang mencari-cari dan mudah menyalahkan orang lain? Mengapa kita tidak membiasakan diri berefleksi untuk melihat kekurangan dan kelemahan sendiri agar rendah hati dan bijaksana?
Jika, sekalipun ada teman meminta saran, karena hendak bekerja sama dengan A, apa saya berhak untuk melarang dan minta berhati-hati? Semua itu bergantung sepenuhnya pada pribadi yang menjalaninya. Selama ini saya tidak merasa dimanfaatkan oleh A!
Terlalu naif dan berjiwa kerdil, karena kita baik dengan seorang yang perangainya jelek, misalnya. Kita lalu dihubung-hubungkan dan dicap berkelakuan jelek pula.
Disadari dan diakui, atau tidak. Ketika mudah melihat kesalahan orang lain, ternyata kesalahan dan kekurangan kita itu lebih banyak lagi.
Ketika kita membuka aib orang lain, sebenarnya kita sedang membuka kelemahan, aib, dan menghakimi diri sendiri.
Sebaliknya, ketika kita berdamai dengan diri sendiri untuk memberi maaf dan mengasihi orang yang bersalah itu, kita berjiwa besar.
Sejatinya, tidak ada orang yang luput dari kesalahan dan khilaf. Tapi orang yang bijaksana itu melihat hikmat dari persoalan hidup ini, dan mensyukurinya. Karena hidup ikhlas itu anugerah Tuhan!
Berbagilah dengan sukacita, dan bahagia (Roma 12: 8).
…
Mas Redjo

